TINJAUAN MENYELURUH DAN IMPLIKASINYA

A.Pendahuluan
Secara historis tujuan awal diciptakannya manusia adalah untuk menjadi abdun dan khalifah Allah fi al-ard, berupa kepercayaan dan tanggung jawab (amanah) yang paling berat buat manusia, berupa kepercayaan akan tanggung jawabnya untuk mengatur ekosistem dunia, sesuai dengan kehendak dan maksudnya.1
Walaupun sempat terjadi protes dari malaikat namun proses pendelegasian amanah mulia ini tidaklah gagal, sebagaimana disebutkan dalam firmannya: “ khalifah." Mereka berkata, "Adakah Engkau akan menciptakan orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, sedang kami menyanjung dengan memuji-Mu dan memanggil Engkau Suci?" Dia berkata, "Sesungguhnya Aku lebih tahu apa yang kamu tidak tahu.2 Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, "Aku akan menciptakan di bumi.
Sehubungan dengan urgensi keberadaan kepemimpinam kepala sekolah, maka dalam Islam baik secara fitrah maupun syariah eksistensi seorang pemimpin merupakan suatu hal yang wajib, sebagaimana wajibnya kaum muslimin berhimpun dalam jama'ah. Menyadari pentingnya persoalan ini, maka khalifah kedua Umar Bin Khatthab RA. berkata: “Tidak ada Islam tanpa jama'ah dan tidak ada jama'ah tanpa pemimpin dan tidak ada pemimpin tanpa ketaatan.”3
Maka dari itu kami mencoba pada kesempatan yang tersedia ini untuk membahas tentang tinjauan menyeluruh dan implikasi kepemimpinan kepala sekolah yang akan dapat menjadi gambaran dan perhatian untuk berjalannya roda kepemimpinan kepala sekolah yang harmonis.




B. Substasi Atau Isi Pokok
Substansi secara total dapat diklasifikasikan menjadi empat macam kategori:
1)Masalah kepemimpnan dan organisasi yang ditinjau dari kaedah-kaedah
teoritik
2)Profil kepala sekolah yang diuraikan menurut tugas dan fungsi, serta keberadaan sekolah sebagai birokrasi, sistem sosial, sistem terbuka, agen perubahan, dan sekolah sebagai wawasan wiyatamandala
3)Mengungkap tanggung jawab kepala sekolah aqlam pembinaan terhadap program pengajaran, kesiswaan, staf, anggaran belanja, sarana dan prasarana sekolah, serta pembinaan hubungan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat
4)Usaha pembinaan kualitas kepemimpinan kepala sekolah.4
Kategori pertama, kepemimpinan dan organisasi ditinjau dan dikembangkan dari studi para cendikiawan dengan hasil-hasil karyanya, seperti Gary A.Yukl, Leadership in organization (1968 ) ; James M. Lipham cs, The principalship, Concepts, Competencies, and cases, ( 1985 ) ; Paul Hersey cs,. Management of organizational Behavior; Utilizing Human Resuorces (1977 ) ; Fre E, Feldler cs., Leaderhip and Effective Management (1975).; Willam B. Castatter, The personel funcntion in Educatonal Administration ( 1986).5
Kategori kedua, profil kepala sekolah dan keberadaan sekolah. Betapa luas, penting dan strategis peranan kepala sekolah dalam lingkungan sebuah sekolah, disamping peranannya sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah juga berfungsi sebagai seorang pejabat formal, sebagai manajer, sebagai pendidik dan sebagai staf. Masing-masing telah diuraikan secara jelas tentang tugas pokok serta ciri-cirinya yang berbeda-beda dengan yang lain.6
a.Peranan kepala sekolah sebagai staf:
Memberikan ketegasan bahwa jabatan kepala sekolah adalah suatu jabatan hirarkis, subordinated pada jabatan yang lebih tinggi, sehingga diamping struktural tertinggi ditingkat sekolah, jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang bertanggung jawab untuk membantu atasan, jabatan yang tidak memiliki kewenangan untuk memberkan keputusan atau instruksi.
b. Karena kedudukannya sebagai staf, kepala sekolah terikat untuk loyal, dalam arti melaksanakan, mengamankan perintah dan kebijaksanaan atasan ikut memecahkan permasalahan yang dihadapi pimpinan.7
Kategori ketiga, yaitu tanggung jawab kepala sekolah tentang pembinaan terhadap program pengajaran, sumber daya manusia, sumber daya material dan pembinaan terhaap hubungan kerja sama antara sekolah dan masyarakat.
Pada kategori ketiga ini seluruh kekuatan kepala sekolah dituntut meraih keberhasilan sekolah. Dengan demikian, keberhasilan sekolah tidak hanya bermuara pada tercapainya program pengajaran, melainkan selurh sasaran pembinaannya yang mencakup sumber daya manusia, sarana dan hubungan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat harus dapat diraih secara seimbang.
Kategori keempat, adalah usaha pembinaan kualitas kepemimpinan kepala sekolah.
Ada beberapa cara untuk melakukan pembinaan kualitas kepemimpinan kepala sekolah, yakni melalui seleksi, pengangkatan dan penempatan, pendidikan dan pelatihan dan evaluasi terhadap penampilan kepala sekolah.
Agar pembinaan kepemimpinan kepala sekolah dapat berhasil dengan baik, lebih dahulu perlu ditentukan atau diambil langkah-langkah, seperti rumusan kepemimpinan kepala sekolah, tugas pokok dan fungsi kepala sekolah, kemampuan yang perlu dimiliki oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, kriteria keberhasilan kepala sekolah, serta kemampuan khusus yang diperlukan dan ada kalanya yang paling penting yaitu penguasaan wawasan atau cakrawala pandang yang diperlukan khususnya dalam rangka kerja sama dengan lingkungan mayarakat serta kemampuan mengikuti dan mengantisipasikan perkembangan ilmu dan tegnologi serta situasi diluar sekolah.8
Disamping dari pada itu sebagai penunjang keberhasilan pembinaan kepempinan kepala sekolah paling tidak ada tiga tantangan yang perlu diantisipasikan dan dihadapi yaitu kesiapan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana serta perangkat piranti dan pengorganisasian. Sehingga usaha peningkatan kualitas kepemimpinan kepala sekolah dapat terlaksana secara terancana, terkoordinasi, efisien dan efektif.
Disisi lain juga memerlukan kesiapan sumber daya manusia yang akan dilibatkan dalam pemantauan jabatan kepala sekolah yang kosong, penyaringan, penentuan calon, maupun mereka yang dapat tugas untuk melakukan evaluasi terhap penampilan kepala sekolah, yaitu para aparat ditingkat kecamatan, kabupaten, / kota madya, kantor wilayah dan aparat dari tingkat pusat.9
Usaha peningkatan kualitas kepemimpnan kepala sekolah sebagai salah satu kekuatan sumber daya manusia tidak sederhana. Dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah tidak mungkin dapat dilaksanakan oleh suatu unit tertentu, tanpa melibatkan kerja sama, koordinasi dengan unit-unit kerja yang relevan.
C. Koordinasi Dan Kerja Sama
Dalam memperdayakan segala sumber daya suatu organisasi untuk mencapai tujuannya, perlu diadakan pembagian tugas, pengelompokan sumber daya manusia kedalam suatu kesatuan kerja (unit kerja). Hubungan kerja baik yang bersifat koordinatif maupun subordinatif masih ada lagi usaha lain yang bersifat mengatur, semua dilakukan agar proses kegiatan dalam mencapai tujuan dilaksanakan dengan seefektif mungkin tanpa adanya pertentangan, konflik perbedaan-perbedaan persepsi yang membahayakan kepentingan organisasi yang lebih luas.10
Betapa pentingnya peranan koordinasi dalam koordinasi mendorong lahirnya para pakar untuk melihat lebih tajam tentang koordinasi dari berbagai dimensi pengertian, tujuan, peranan dan permasalahan yang dihadapi oleh koordinasi.
Salah satu sumber pengertian tentang koordinasi dalam kamus lmiah populer adalah penyesuaian atau penyelerasan.11 Dalam buku sanri jilid II menyebutkan bahwa koordinasi dalam pemerintahan, pada hakekatnya:
”Upaya memadukan (mengintegrasikan), menyerasikan, menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan kegiatan segepa gerak, langkah dan waktunya dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran kerja sama.” 12
Dari definisi di atas dapat diambil dan dikaji beberapa hal:
1.Penting dan perlunya koordinasi; agar dalam suatu organisasi tercipta keselarasan tindakan, kesatuan usaha, kesesuaian dan keseimbamgan antara unit kerja.
2.Tujuan koordinasi, agar tujuan bersama suatu organisasi dapat dicapai.
3.Peranan koordinasi, apabila koordinasi dapat dilakukan dengan baik dalam suatu organisasi, maka dapat dikendalikan hal-hal barikut seperti:
a)Timbulnya konflik/ hubungan yang bersifat antagonis
b)Terjadinya persaingan, kompetesi yang tidak sehat
c)Mencegah hal-hal yang bersifat pemborosan
d)Perbedaan persepsi, pendekatan dan pelaksanaan,
e)Sikap egoisme sektoral.
Ada beberap problema yang menarik untuk diperhatikan:
1.Anggapan rasa pihak tertentu, bahwa organisasinya mempunyai peran yang lebih tinggi, tingkat kekuatan sumber daya manusianya dirasakan lebih baik
2.Anggapan pihak tertntu, bahwa organisasi induknya dirasakan sebagai sumber segala-galanya, sehingga merasa enggan untuk berkoordinasi
3.persepsi salah terhadap arti koordinasi, sehingga ide yang timbul dari pihak tertentu dirasakan sebagai suatu perintah.
4.Anggapan yang salah dari pihak tertentu, bahwa organisasinya dirasakan yanag perlu melakukan koordinasi.
Departemin pendidikan dan kebudayaan apabila dibandingkan dengan departmn-departemin yang lain merupakan departemin yang besar, dalam atri memiliki jumlah pegawai negeri sipil yang paling banyak, sebab 75 % adalah pegawai negeri sipil Republik Indonesia berada didepartemn pendidikan dan kebudayaan. Departemn pendidikan dan kebudayaan mempunyai tugas pokok dan fungsi yang sangat konfleks. Sebab tidak hanya bertanggung jawab dalam masalah pendidikan dari tingkat dasar, sama kepergurusan tinggi, juga bertanggung jawab dalam masalah pengelolaan kebudayaan, dan segala dimensi didalamnya. Akibatnya sebaga organisasi yang besar, didalmnya terdapat uot kerja baik dipusat maupun didaerah yang beragam dilihat dari bidang tugas, sifat tugas dan tuntutan tugas.
Bagi Bangsa Indosesia yang sedang melakukan pembangunan nasional, makna suatu sekolah adalah sebuah lembaga yang didalamnya diselenggarakan proses belajar mengajar yang berfungsi: mencerdaskan kehidupan bangsa, mempersiapkan tenaga kerja dalam proses industrialisasi dan menanamkan penguasaan IPTEG menjelang tegnolgi.
Melihat keberadaan seorang kepala sekolah baik sebagai PNS, tenaga fungsional, maupun sebagai unsur pimpinan, tergambar satu mata rantai yang panjang tentang pengolaan jabatan yang meliputi: Identifikasi, rekrutmen, seleksi, dan penentuan, diklat, pengangkatan dan penempatan, orientasi dan sosialisasi, pembinaan dan pengembangan, evaluasi dan karier.
Kepala sekolah adalah jabatan pimpinan, yaitu tenaga fungsional guru yang diberi tugas, tanggung jawab untuk memimpin suatu sekolah. Sedangkan sekola sendiri adalah Suatu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah pembinaan unit utama yang berfungsi dan bertanggung jawab dalam kebijaksanaan pendidikan dasar dan menengah, dan secara oprasional UPT dilaksanakan diwilayah tertentu dibawah koordinasi kantor wilayah
Proses pengelolaan jabatan kepala sekola memerlukan keterlibatan atau koordinasi antar unit yang berfungsi memberikan pelayanan, unit utama yang bertanggung jawab dalam penentuan kebjaksanaan kependidikan dasar dan menengah diantarnya:
1.Unet utama yang berperan memberikan pelayanan, (fungsi administratif) berkepentingan untuk menetukan berbagai standar pembukuan, spesifikasi, dan kualifikasi jabatan kepala asekolah, berbagai format dan instrumen identifikai, rekrutmen, seleksi dan penentuan Diklat aministrasi dan manajemen, evaluasi dan motasi serta pemberhentian.
2.Unit utama, yang bertanggung jawab dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan dasar dan menengah, berkepentingan untuk merencanakkan dan melaksanakan terpenuhnya kebutuhan, spesifikasi dan kualifikasi jabatan, pembinaan dan pengembangan, mutasi dan pemberhentian kepala sekolah.
3.Unit kantor wilayah, yang lebih banyak terlibat dalam rekrutmen, identifikasi sampai pada tahap pemberhentian jabatan kepala sekolah.
D.Evaluasi Tindak Lanjut
Evaluasi tindak lanjut (follow up evaluation) sebaga usaha tindak lanjut untuk mengetahui perubahan perilaku seseorang alumni yang telah atau baru saja selesai mengitkuti program pelatihan, hubungannya dengan program pelatihan kepala sekolah, evaluasi tindak lanjut untuk memperoleh kepastian apakah para alumni pelatihan kepala sekolah membawa perubahan positif terhadap sekolah, bawahan lingkungan, serta perubahan pada diri para alumni itu sendiri.
Ada empat responden, sebagai sumber pemmbinaan terhaqdap evaluasi tindak lanjut, yaitu:
1.Atasan kepala sekolah (penilik, pengawas, kakancam, kakandep kabupaten / kota madya, kanwil.). Sasaran yang dijaring berkisar perubahan positif yang menyangkut pola pikir, sikap, prilaku, disiplin, loyalitas, dan produktivitas kerja, kemampuan, penerapan ilmu yang telah diperoleh selama pelatihan yang tercermin pada :
A set of personnal caracterrestic, bagaimana pola pikir, sikap dan perilaku kepala sekola dalam proses kegiatan terhadap tugas ( task oriented ), bawaan (relation ship oriented)dan produksi (effictiviness).
Process, bagaimana metode, strategi pendayagunaan sumber daya yang ada secara optimal, suasana kerja, serta prosedur yang ditetapkan dalam mencapai tujuan.
Products, bagaimana hasil yang dicapai, apaka benar-benar sesuai rencana, prosedur aturan-aturan yang berlaku, yaitu diraihnya equalibrium antara kepentingan sekolah dengan harapan sumber daya manusia (bawahan).
2.Bawahan, yang berkisar hal-hal yang berkaitan dengan perubahan positif, seperti motivasi, semangat kerja sama, disuiplin sebagai akibat atau pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah yang berorientasi pada tugas, hubungan kerja sama dan produksi.
3.Sesama kepala sekolah dan masyarakat, menyangkut peningkat kemampuan dan kemauaqn bekerja sama, koorinasi keterbukaan dan hubungan kerja sama yang lebih akrab dengan masyarakat.
4.Kepala sekolah sebagai alumni, pertanyaannya berkisar relevansi positif pelatihan baik menyangkut struktur, program muatan, metodologi, proses, sarana, pasilitas, penampilannya terhadap kemampuan manajerial, sifat dan watak, pengetahuan dan ketrampilan profesional administratif para alumni dalam peningkatan efiktivitas pelaksanaan tugas.
Ada dua hal strategi yang diperoleh berbagai hasil evaluasi tindak lanjut:
Mengetahui dengan pasti berhasil tidaknya suatu program pelatihan yang telah dilaksanakan.
Sebagai sumber informasi untuk memperoleh gambaran maupun laporan tentang kekurangan-kekurangan pelatihan yang telah dilaksanakan, seperti sesunan muatan, tegnologi, pelatihan, sarana pendukung, suasana, tenaga pengajar, evaluasi dan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur hubungan kerja sama, dan sebagainmya.
E.Kesenjangan Antara Kemampuan Dan Sasaran
Suatu tantangan yang memerlukan perhatian adalah terdapatnya ketidak seimbangan antara kemampuan penyelenggaraan pelatihan dengan jumlah sasaran pelatihan yang bervareabel.


Sebagai gambaran di bawah ini ilustrasi kuantitatif kepala sekolah dari tingkatan jenis sekolah.

Tingkat dan jenis sekolah : negeri
Taman Kanak-Kanak (TK) ...................................... 59
Sekolah Luar Biasa (SLB)........................................ 24
Sekolah Dasar (SD) .................................................. 137. 487
Sekolah Lanjutan Pertama (SLP) ..........................................
Umum (SMP) ........................................ 7.256
Kejuruan/Teknik .................................... 261
SKKP...................................................... 74
ST............................................................. –
Sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).................................
Umum/SMA ......................................... 1953
Kejuruan / Teknik ................................ 605
SMEA .................................................. 326
SMKK ................................................. 85
STM ...................................................... 194
Berdasarkan data-data kuantitatif kepala sekolah tersebut, makin memutivasi adanya kerjasama terpadu antara unit–unit kerja terkait, penanggung jawab, penyelenggara pelatihan. Menurut pengalaman selama ini, kemampuan menyelenggarakan pelatihan kepala sekolah dalam bidang administrasi dan manajemen dalam satu tahun anggaran tidak akan lebih dari 10 kali angkatan.
Masing-masing angkatan dengan daya tampung 30-40 peserta. Dalam satu tahun dapat dicapai 360-480 kepala sekolah untuk mencapai seluruh sasaran memerlukan waktu yang cukup lama, tidak ideal lagi bagi suatu program pelatihan. Sebab akan terjadi gap atau kesenjangan antara program pelatihan yang diselenggarakan pada tahun-tahun preode awal, preode pertengahan dan preode atau tahun akhir dari preode / waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sasaran, baik substansi pelatihan, maupun munculnya macam-macam permasalahan baru yang dihadapi oleh para kepala sekolah.
Kesenjangan merupakan persoalan serius yang memerlukan satu strategi keputusan yang tepat. Apabila pada saat ini pelatihan-pelatihan kepala sekolah lebih banyak diselenggarakan secara terpusat, dengan tidak mengurangi kualitas yang harus dicapai, untuk mengejar dan merasa sasaran yang ada, perlu dicarikan alternatif penyelenggaraan yang lain, yaitu kemungkinan adanya pelaksanaan pelatihan secara desentralisasi.
Ada satu hal yang perlu dihindari yaitu pemikiran pelaksanaan kepala sekolah jarak jauh, yaitu program pelatihan kepala sekolah secara tertulis. Sebab ada beberapa pertimbangan atau alasan perinsip, mengapa oprogram pelatihan kepala sekolah jarak jauh saat ini belum perlu dilakukan?
1.Sasaran kepala sekolah, bukan sekedar diarahkan pada tercapainya peningkatan pengetahuan (knowledge), melainkan justru difokuskan pada segi-segi sikap, watak atau keperibadian, disiplin, tanggung jawab, loyalitas yang memerlukan kontak langsung antara sesama peserta, pengajar, pembina dan penyelenggara. Proses pengamatan secara terus-menerus terhadap penampilan para peserta perlu dilakukan.
2.keterampilan yang bermacam-macam, seperti komonikasi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, motivai tidak mungkin dapat dibina sekedar melalui atau membaca bahan-bahan tertulis, melainkan peserta harus diterjunkan kedalam praktek lapangan dan memerlukan observasi langsung.
3.kemampuan manajerial, kepemimpinan, memerlukan pula kotak langsung antara peserta dengan peristiwa nyata, sehingga paraq pesrta akan memperoleh pengalaman-pengalaman riil, sekaligus perilaku para peserta dapat dipantau dan dibina, seperti potensi kewibawaan (karisma) yanag merupakan salah satu kekuatan penting dalam peroses manajerial dan kepemimpinan.
4.kontak face to face sehari-hari antara sesama peserta dengan poengelola dan para pengajar, pembina, merupakan proses dan pendidikan dan pelatihan yang sangat efektif dalam membina nilai-nilai watak dan keperibadian peserta.
Kesimpulan

Substansi secara total dapat diklasifikasikan menjadi empat macam kategori: masalah kepemimpnan dan organisasi yang ditinjau dari kaedah-kaedah teoritik, profil kepala sekolah yang diuraikan menurut tugas dan fungsi, serta keberadaan sekolah sebagai birokrasi, sistem sosial, sistem terbuka, agen perubahan, dan sekolah sebagai wawasan wiyatamandala, mengungkap tanggung jawab kepala sekolah aqlam pembinaan terhadap program pengajaran, kesiswaan, staf, anggaran belanja, sarana dan prasarana sekolah, serta pembinaan hubungan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat dan usaha pembinaan kualitas kepemimpinan kepala sekolah.
Salah satu sumber pengertian tentang koordinasi menyebutkan bahwa koordinasi dalam pemerintahan, pada hakekatnya:
Upaya memadukan (mengintegrasikan), menyerasikan, menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan kegiatan segepa gerak, langkah dan waktunya dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran kerja sama.
Evaluasi tindak lanjut untuk memperoleh kepastian apakah para alumni pelatihan kepala sekolah membawa perubahan positif terhadap sekolah, bawahan lngkungan, serta perubahan pada diri para alumni itu sendiri.
Kesenjangan Antara Kemampuan Dan Sasaran merupakan suatu tantangan yang memerlukan perhatian adalah terdapatnya ketidak seimbangan antara kemampuan penyelenggaraan pelatihan dengan jumlah sasaran pelatihan yang bervareabel.
Kesenjangan merupakan persoalan serius yang memerlukan satu strategi keputusan yang tepat. Apabila pada saat ni pelatihan-pelatihan kepala sekola lebi banyak diselenggarakan secara terusat, engan tidak mengurangi kualitas yang harus dicapai, untuk mengejar an mera sasaran yang aa, perlu dicarikan alternatif penyelenggaraan yang lain, yatu kemungkinan adanya pelaksanaan pelatihan secara desentralisasi.
Category: 0 komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar