STRATEGI

BAB II.

A.STRATEGI
1.Pengertian Strategi
Ketika kita mendengar kata strategi, maka kita cendrung terbayang pada dunia militer, karena dari sanalah kata tersebut diawali dan lebih populer.Dalam dunia militer, kata tersebut biasanya digunakan dalam suatu peperangan sebagai tugas seorang komandan dalam menghadapi musuh, yang bertanggung jawab mengatur taktik untuk memenangkan sebuah pertempuran. Sebagai seorang komandan, harus mampu menemukan dan menjalankan strategi yang tepat karena bila salah maka nyawa para prajurit yang menjadi taruhannya.
Dalam ranah yang lebih luas, arti kata strategi sangat beraneka ragam dan bervariasi karena banyaknya pakar yang mendefinisikan makna kata tersebut. Seperti:
a.Hayes dan Well mengemukakan bahwa strategi dapat diartikan sebagai semua kegiatan yang ada dalam lingkup perusahaan, termasuk didalamnya pengalokasian semua sumber daya yang dimiliki perusahaan.
b.Skinner mengatakan bahwa strategi adalah filosofi yang berkaitan dengan alat untuk mencapai tujuan.
c.Sedangkan menurut Drucker ( dalam Barlian 2003:45) strategi adalah mengerjakan sesuatu yang benar.1
B.Hasibuan dan Moejiono dalam bukunya, proses belajar mengajar, menjelaskan bahwa strategi adalah usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan2
a.Clausewitz (Dalam wahyudi 1996:16) juga memberi pengertian bahwa strategi adalah suatu seni menggunakan pertempuran untuk memenangkan perang.
b.Chandler (dalam Rangkuti, 1998:3) mengemukakan bahwa strategi adalah alat untuk mencapai tujuan organisasi dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut serta prioritas alokasi sumber daya.
c.Learned et al (fredy rangkuty,1998:3) menjelaskan bahwa strategi adalah alat untuk menciptakan keunggulan bersaing. Atau sebagai suatu alat yang dapat menentukan langka organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
d.Jauch & Glueck mengemukakan bahwa strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan keunggulan strategi organisasi dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama organisasi dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi3.
Berdasarkan tinjauan dari sekian banyak konsep strategi yang telah dipaparkan oleh para ahli diatas, maka strategi sebuah organisasi dapat didefinisikan sebagai:
a..Sebagai alat oraganisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya.
b. Pola arus dinamis yang diterapkan sejalan dengan keputusan dan tindakan yang telah dipilih oleh sebuah organisasi
c. Sejumlah perencanaan yang dirumuskan organisassi sebagai hasil pengkajian yang mendalam terhadap kondisi kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman ekternal organisasi.
Strategi sebuah oragnisasi atau sub unit sebuah organisasi lebih besar yaitu sebuah konseptualisasi yang dinyatakan atau yang diimplikasikan oleh pemimpin organisasi, berupa:
a. Sasaran-sasaran jangka panjang atau tujuan-tujuan organisasi tersebut.
b.Kendala-kendala luas dan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin atau yang diterima dari pihak atasan yang membatasi skope aktivitas-aktivitas organisasi yang bersangkutan
c. Kelompok rencana-rencana dan tujuan-tujuan jangka pendek yang telah diterapkan dengan ekspektasi akan diberikan sumbangsih mereka dalam hal mencapai sasaran-sasaran organisasi tersebut.4
Porter (1992: 2-3) mengatakan bahwa ada kaitan yang erat antara organisasi dan strategi dalam rangka mencapai keunggulan dan kemampuan bersaing. Bahkan dikatakan bahwa strategi adalah alat penting dalam rangka mencapai keunggulan bersaing. Hal ini juga sangat sejalan dengan tujuan strategi yaitu untuk mencapai bahkan mempertahankan posisi keunggulan dari pihak luar yang menjadi pesaing.
Sejalan dengan hal tersebut, Karhi Nisjar (1997:95) menjelaskan bahwa organisasi dikatakan masih meraih suatu keunggulan apabila organisasi tersebut dapat memamfaatkan peluang-peluang dari lingkungannya, yang memungkinkan organisasi untuk menarik keuntungan-keuntungan dari bidang-bidang yang menjadi kekuatannya.5
2.Mamfaat manajemen strategi
Adapun yang menjadi mamfaat manjemen strategis bagi organisasi adalah
a.Manajemen strategis membuat organisasi lebih proaktif dari pada reaktif dalam membentuk masa depannya.
b.Manajemen strategis membuat organisasi dapat memulai dan mempengaruhi, bukan hanya menanggapi bebagai kegiatan. Dengan demikian,organisasi dapat mengendalikan nasibnya sendiri.
c.Semua elemen dalam organisasi menyadari keuntungan-keuntungan manajemen strategis sehingga sangat mungkin dapat dilaksanakan karena pasti mendapat dukungan dari semua pihak.
d.Membantu organisasi merumuskan strategi-strategi yang lebih baik melalui pendekatan-pendekatan yang lebih sistematis,logis, dan rasional untuk menentukan pilihan strategis.
e.Peluang yang diciptakan oleh proses tersebut untuk memberdayakan para individu.
Pemberdayaan yang dimaksud adalah untuk memperkuat rasa keberhasilan tiap individu dengan mendorong dan menghargai untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan dan mengasah inisiatif dan imajinasi mereka.6
Dengan melihat besarnya mamfaat manajemen strategis bagi organisasi, maka sebagai pengelola atau penyelenggara organisasi sedapat mungkin melaksanakan manajmen strategis dalam organisasinya. Tujuan utama dalam proses ini adalah untuk mendapatkan pemahaman dan komitman dari semua elemen organisasi. Pemahaman merupakan yang paling penting dari manajemen strategis baru kemudian komitmen. Ketika semua warga organisasi memahami apa yang dikerjakan oleh organisasi dan mengapa melakukannya, mereka merasa menjadi bagian dari oraganisasi dan merasa memiliki komitmen untuk membantu semua program organisasi.
Meskipun membuat keputusan-keputusan strategis yang paling tepat adalah tanggung jawab pemimpin atau manajer atau chief executive officer, tetapi para jajaran yang lain juga harus terlibat dalam kegiatan perumusan, pelaksanaan, dan evaluasi stategi. Keikutsertaan mereka adalah kunci untuk memperoleh komitmen dalam mencapai perubahan yang diinginkan.
Semakin banyak organisasi yang menggunakan manajemen untuk membuat keputusan-keputusan strategis bukan jaminan untuk mencapai sebuah keberhasilan, manajemen strategis dapat menimpang apabila tidak dilaksanaklan dengan baik.7
Kalau kita ambil contoh dari dunia bisnis, sangat terasa sekali mamfaat yang dirasakan apabila menggunakan manjemen strategi. Lebih menguntungkan dan lebih berhasil dibandingkan dengan yang tidak menggunakannya. Bisnis yang menggunakan konsep manajemen strategi menunjukkan peningkatan yang berarti dalam penjualan, keuntungan dan produktivitas dibandingkan dengan bisnis yang tidak menggunakan kegiatan perencanaan yang sistematis.
Begitu juga dengan perusahaan, bagi perusahaan yang kinerjanya tinggi cendrung menggunakan perencanaan sistematis untuk menghadapi fluktuasi masa depan dalam lingkungan ekternal dan internal mereka. Dun & Bradstreet melaporka bahwa lebih dari 100.000 bisnis gagal di Amerika Serikat setiap tahunnya. Kegagalan bisnis tersebut meliputi kebangkrutan, penyitaan, likuidasi, dan pernyataan pailit yang dikeluarkan oleh pengadilan meskipun kegagalan tersebut tidak semata disebabkan oleh tidak adanya manajemen strategi yang efektif8.
3. Tahapan-Tahapan Manajemen Strategi:
a. Perumusan Strategi
Perumusan manajemen strategi dapat dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: diagnosis,perencanaan, dan penyusunan dokumen rencana (Tim SP4 UGM, 1995:9-14 ). Tahap diagnosis dimulai dengan pengumpulan berbagai informasi perencanaan sebagai bahan kajian, baik kajian ekternal maupun internal. Kajian lingkungan internal bertujuan untuk memahami kekuatan dan kelemahan dalam pengelolaan pendidikan, sedangkan kajian ekternal bertujuan untuk mengungkap peluang dan ancaman.
Tahap perencanaan dimulai dengan menetapkan visi dan misi. Visi adalah gambaran masa depan yang diinginkan, sedangkan misi ditetapkan dengan mempertimbangkan rumusan penugasan yang berkaitan dengan visi masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. Tahapan yang ketiga adalah penyusunan dokumen rencana strategis. Perumusan ini dapat dilakukan pada saat pengkajian telah menghasilkan temuan, penyelesaian akhir perlu menunggu hingga semua keputusan telah ditetapkan.9
Rencana strategis yang dirumuskan dalam jabaran visi, misi, isu utama dan stategi pengembangan harus dijadikan sebagai pedoman dalam mengembangkan rencana operasional lima tahun yang mencakup program kerja, sasaran dan pentahapannya. Dari rencana operasional lima tahunan kemudian dipilah-pilah menjadi rencana operasional tahunan yang berisi kegiatan, sasaran,dan data atau alasan pendudukungnya10.
Sejalan dengan hal itu,dalam perumusan strategi mencakup beberapa kegiatan, seperti pengembangan visi dan misi oraganisasi. Mengeidentifikasi peluang dan ancaman ekternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan organisasi, menetapkan tujuan jangka panjang organisasi, membuat sejumlah strategi alternatif untuk organisasi, dan memilih strategi tertentu untuk digunakan. Stategi alternatif perlu dibuat sebagai langkah antisipasi karena tidak ada oraganisasi yang memiliki sumber daya yang tidak terbatas, maka para perncana strategi harus mampu membuat strategi alternatif yang bermamfaat bagi organisasi11.
b.Pelaksanaan Strategi
Judson ( 1996 ) menjelaska ada lima langkah penting dalam mengimplementasikan manajemen strategi, yaitu: menganalisis dan merencanakan perubahan, mengkomunikasikan perubahan, mendorong perubahan, mengembangkan inisiasi masa transisi, dan mengkonsolidasikan kondisi baru dan tindak lanjut.
Sehubungan dengan itu, Rowe (1990:299) mengemukakan beberapa prasyarat yang perlu diperhatikan dalam penerapan manajemen strategi antara lain:
a. Preparing and comunicating strategic plan.
b. The strategic budged
c. Understanding the internal (assumption and beliefs,values,corporate culture, strategic vision,grand strategiy,goals, and objectives andcritical success factors).
d. Assessing the ekternal (environment, stakeholder analysis, environment scanning, vulnerability analysis, qualitative environment forecasting).
e. Assessment of product/marker dynamic ( assessment of product/ market strategy, technology assessment, product/market mapping, competitive protofolio analysis).
f.Understanding the competitive protofolio analysis12
Dalam pelaksanaan strategi mengharuskan organisasi untuk menetapkan sasaran tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan/ jajaran, dan mengalokasikan sumber daya sehingga perumusan strategi dapat dilaksanakan. Pelaksanaan strategi mencakup pengembangan budaya yang mendukung strategi, penciptaan struktur organisasi yang efektif, pengarahan kembali usaha pemasaran, penyiapan anggaran, pengembangan dan pemamfaatan sistem informasi, serta menghubungkan kompensasi untuk karyawan/ jajaran dan kinerja organisasi.
Pelaksanaan strategi sering disebut tahap tindakan dalam manajemen strategi. Melaksaanakan strategi berarti mendorong atau mebolisasi para para manajer dan staf untuk melaksanakan strategi-strategi yang dirumuskan. Pelaksanaan strategi yang sering dianggap sebagai tahap yang paling sulit dalam manajemen strategi menuntut disiplin, komitmen, dan pengorbanan pribadi. Keberhasilan pelaksanaaan strategi bergantung pada kemampuan manajer dalam memotivasi para staf dan jajaran. Hal ini lebih merupakan seni dari pada ilmu. Strategi-strategi yang dirumuskan tetapi tidak dilaksanakan tidak akan memberikan mamfaat. 13
Keterampilan antar pribadi sangat penting untuk keberhasilan pelaksanaan strategi. Kegiatan-kegiatan pelakasanaan strategi mempengaruhi semua manajer dan jajaran dalam organisasi. Setiap divisi dan departemen harus memutuskan jawaban-jawaban untuk pertanyaan, seperti, ” apakah yang harus kita kerjakan untuk melaksanakan strategi oraganisasi dibagian ini?” dan ” cara terbaik seperti apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini?”. Tantangan dalam tahap pelaksanaan strategi adalah mendorong para manajer dan jajaran di seluruh organisasi untuk bekerja dengan rasa bangga dan antusias guna mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan14.
c.Evaluasi Strategi
Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategi. Para manajer harus benar-benar tahu alasan strategi-strategi tertentu tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam hal ini, evaluasi strategi adalah cara pertama untuk memperoleh informasi. Semua strategi dapat dirubah sewaktu-waktu karena faktor-faktor ekternal dan internal yang selalu berubah.
Ada tiga kegiatan pokok yang dapat dilakukan dalam evaluasi strategi adalah: Pertama, mengkaji ulang faktor-faktor ekternal dan internal yang menjadi landasan rumusan strategi yang ditetapkan sekarang ini. Kedua, mengukur kinerja. Ketiga, melakukan tindakan-tindakan korektif.
Evaluasi strategi perlu dilakukan karena keberhasilan saat ini bukan merupakan jaminan untuk keberhasilan masa depan. Keberhasila selalu menciptakan masalah-masalah baru dan berbeda. Organisasi yang cepat puas diri akan mati dengan sendirinya15.
4 Pedoman Manajemen Strategi
Pedoman manajemen strategi sangat perlu untuk diketahui dan dilaksanakan karena jika sejumlah pedoman tertentu tidak diikuti dengan baik, maka akan muncul kritikan terhadap proses tersebut dan akan timbul masalah dalam organisasi.
Manajemen strategi tidak boleh menjadi mekanisme birokrasi abadi, tetapi harus menjadi proses belajar kritis secara mandiri yang membiasakan para manajer dan para staf menangani masalah-masalah strategi, kunci dan alternatif-alternatif penyelesaian yang tepat. Manajemen strategi tidak boleh menjadi ritual, terlalu mengawang, dibuat-buat atau terlalu formal,mudah ditebak, dan kaku. Kata-kata yang harus didukung oleh angka-angka, bukan angka-angka yang harus didukung oleh kata-kata, harus menjadi media yang menjelaskan isu-isu strategis dan tanggapan-tanggapan organisasi.16
R.T. Lenz memberikan sejumlah panduan penting agar berhasil dalam menjalankan manjemen strategi:
a.Buatlah proses manajemen strategi yang sangat sederhana dan non rutin.
b.Hilangkan jargon dan bahasa perencanaan yang terlalu rumit
c.Ingatlah bahwa manajemen strategi adalah proses untuk membantu belajar dan bertindak, bukan hanya sistem kontrol formal.
d. Proses hendaknya jangan mudah ditebak keseluruhannya, dan setting kegiatannya harus selalu diganti agar merangsanga kreativitas.
e. Variasikan penugasan, keanggotaan tim, format rapat, dan kalender perencanaan untuk menghindari kebiasaan rutin.
Jika manajemen telah terlaksana maka bersiaplah menerima kabar buruk. Jika strategi tidak terlaksana, maka para manajer harus mencari tahu penyebabnya. Selain itu tidak boleh ada informasi yang terkait yang dianggap tidak dapat diterima hanya karena informasi tersebut tidak dapat diukur secara kuantitatif.
Bangunlah suatu budaya korporat yang peran manajemen strategi dan tujuan-tujuan pokoknya dapat dipahami. Jangan biarkan ”para teknisi” mengkooptasi proses. Manajemen strategis intinya merupakan untuk belajar dan bertindak. Bahaslah manajemen strategi dalam pengertian tersebut. Ikutilah dimensi-dimensi psikologis,sosial maupun politik dan prasarana informasi serta prosedur administratif yang mendukungnya.
Selain itu.ada satu pedoman penting agar barhasil dalam menjalankan manajemen strategi, yatu keterbukaan pikiran. Kesediaan dan kemauan untuk mempertimbangkan informasi baru, sudut pandang baru gagasan baru, dan kemungkinan-kemungkinan baru sangatlah penting, semua anggota organisasi harus mempunyai semangat untuk melakukan penelitian dan belajar.17
5. Model Manajemen Strategi
Menggunakan model dalam menerapkan manajemen strategi adalah cara yang paling tepat. Setiap model menggambarlan suatu jenis proses.
Kerangka kerja yang terdapat dalam gambar dibawah ini adalah model komprehensif suatu proses manajemen strategi yang sudah diterima secara luas.
Model ini tidak menjamin keberhasilan, tetapi mewakili pendekatan praktis dan jelas untuk perumusan, pelakasanaan dan evaluasi strategi. Hubungan antar bagian-bagian utama dalam proses manajemen strategi ditampilkan dalam model tersebut18.




Gambar.1.1. Proses manajemen strategi yang komprehensif












Sumber: Fred R David, ” How Companies Define Their Mission,” Long Range Planning 22,No.3 (June 1998): 40

Mengidentifikasi visi, misi, tujuan, dan strategi organisasi merupakan titik awal yang logis untuk manajemen strategi. Karena situasi dan keadaan organisasi saat ini mungkin menghambat pelaksanaan sejumlah strategi tertentu dan bahkan mungkin mengharuskan dilakukan suatu tindakan tertentu. Setiap organisasi mempunyai visi,misi tujan, dan strategi meskipun kadang kala hal-hal tersebut tidak secara sadar disusun, dirancang, ditulis dan dikomunikasikan. Jawaban atas pertanyaan kearah mana organisasi tersebut melangkah secara umum dapat ditentukan oleh dimana organisasi tersebut berada selama ini?19
Proses manajemen strategi adalah proses yang dinamis dan berkesinambungan. Perubahan pada salah satu komponen atau bagian utama dari model tersebut dapat menyebabkan perubahan pada satu atau semua unsur yang lain. Misalnya, perubahan dalam ekonomi bisa merupakan peluang besar dan menuntut adanya perubahan tujuan-tujuan jangka panjang dan strategi, kegagalan mencapai sasaran tahunan mengharuskan adanya perubahan kebijakan, atau perubahan strategi pesaing utama mengharuskan adanya perubahan dalam misi organisasi.
Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan perumusan, pelaksanaan, dan evaluasi strategi harus dilakukan secara terus menerus, tidak hanya dilakukan pada akhir tahun atau semester. Proses manajemen strategi harus selalu berjalan dan tidak pernah berhen ti.
Dalam prakteknya, proses manajemen strategi tidak dapat dipisahkan dan dilaksanakan semudah yang digambarkan dalam model manajemen strategi. Para perencana startegi tidak menjalankan proses tersebut langkah demi langkah. Biasanya, ada proses memberi dan menerima diantara tigkatan-tingkatan hirarkis di dalam organisasi20.
Banyak organisasi melakukan rapat-rapat resmi setiap semester untuk membahas dan memperbaharui visi dan misi, peluang dan ancaman,kekuatan dan kelemahan, tujuan, strategi, kebijakan dan kinerja organisasi. Rapat-rapat tersebut biasanya dilakukan diluar kantor. Alasannya adalah untuk mendorong munculnya kreativitas dan keterbukaan dari para peserta komunikasi dan umpan balik yang baik dibutuhkan dalam keseluruhan proses manajemen strategi21.
B. KUALITAS KEPEMIMPINAN
1. Definisi Kualitas dan dimensi kualitas
a. Pengertian Kualitas
Kualitas merupakan topik yang sangat hangat dalam dunia bisnis dan akademik. Namun demikian, istilah tersebut memerlukan tanggapan secara hati-hati dan perlu mendapat penafsiran secara cermat. Kalau di dalam perusahaan, faktor utama yang menentukan kinerja suatu perusahaan adalah kualitas barang dan jasa yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para konsumen. Bagitupun dalam dunia pendidikan, kualitas lulusan dan kualitas para pengelola adalah hal yang sangat menentukan kadar keberhasilan lembaga pendidikan tersebut dimata para pengguna jasa pendidikan dan stakeholders lainnya22.
Ada banyak sekali definisi tentang kualitas yang telah diungkapkan oleh para pakar. Seperti:
a. Juran (1962), ” kualitas adalah kesesuain dengan tujuan atau mamfaatnya”.
b. Crosby (1979) ” kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery,reliability,maintainability, dan cost effectiveness”.
b.Deming (1982) ”kualitas harus bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan sekarang dan masa yang akan datang”.
c.Feigenbaum (1991) ”kualitas merupakan keseluruhan karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing, enginering,manufacture, dan maintenance, dimna produk dan jasa tersebut dan pemakaiannya akan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan”
d.Scherkenbach (1991) ” kualitas ditentukan oleh pelanggan, pelanggan menginginkan produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan harapannya pada suatu tingkatan harga tertentu menunjukkan nilai produk tersebut”.
e.Elliot (1993) ” kulitas adalah sesuatu yang berbeda untuk orang yang berbeda dan tergantung pada waktu dan tempat, atau dikatakan sesuai dengan tujuan”.
f.Goetch dan Davis (1995) ” kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan”.
g.Perbendaharaan istilah ISO 8402 dan dari standar nasional indonesia (SNI 19-8402-1991), kualitas adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar. Istilah kebutuhan diartikan sebagai spesifikasi yang tercantum dalam kontrak maupun kriteria-kriteria yang harus didefinisikan terlebih dahulu23.
Dari definisi-definisi diatas dapat dikatakan bahwa secara garis besar kualitas adalah keseluruhan ciri atau karakteristik produk atau jasa dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhandan harapan pelanggan atau pengguna jasa.
b. Dimensi-Dimensi Kualitas
Sebagai salah satu bentuk jasa yang melibatkan interaksi yang tinggi antara penyedia dan pemakai jasa, terdapat lima dimensi pokok yang menentukan kualitas penyelenggaraan pendidikan, yaitu:
a.Keandalan (reliability ), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan secara tepat waktu,akurat, dan memuaskan.contoh, kegiatan pserta didik dapat dilakukan secara tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan yang dijanjikan.
b.Daya tangkap, yaitu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan dengan tanggap. Dengan demikia kepala sekolah harus mudah ditemui oleh semua pihak yang punya kepentingan dengannya, baik para staf, guru, wali siswa bahkan siswa sekalipun.
c.Jaminan yang mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan,resfek terhadap pelanggan,dan sifat dapat dipercaya,yang dimiliki oleh para tenaga pendidik dan kepala sekolah. Contoh: para tenaga kependidikan harus benar-benar kompeten dibidangnya, reputasi penyelenggara pendidikan yang positif dimata masyarakat, sikap dan prilaku seluruh tenaga kependidikan mencerminkan profesionalisme dan kesopanan.
d.Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan atau stakeholders, misalnya guru mengenal peserta didik yang dia ajari, wali kelas bisa benar-benar berperan sesuai dengan fungsinya, setiap guru dapat dihubungi dengan mudah,baik diruang kerja, rumah,via telpon maupun e-mail24.
Hal serupa telah diungkapkan oleh Garvin (1996), bahwa dimensi kualitas terdiri dari beberapa macam,yaitu:
a. Comunication, yaitu kamunikasi atau hubungan antara penerima dan pemberi jasa.
b. Credibility, yaitu kepercayaan antara pihak penerima dan pemberi jasa.
c. Security, keamanan terhadap hal yang ditransaksikan.
d. Knowing the costumer yaitu pengertian dan pemahaman dari kedua bela pihak
e. Tangibles, yaitu bahwa dalam setiap pelayanan harus dapat diukur atau dibuat standarnya.
f. Reliability. Yaitu konsistensi antara kedua belah pihak dalam memenuhi janjinya.
g. Responsivenes. Yaitu rasa tanggap dan peduli yang tinggi antar kedua belah pihak.
h. Competence. Yaitu kemampuan dan keterampilan pemberi jasa yang dibutuhkan oleh setiap pengguna jasa.
i. Access. Yaitu kemudahan pemberi jasa untukj dihubungi oleh semua pihak bila dibutuhkan.
j. Courtecy, yaitu sifat kesopanan, resfek, perhatian, dan kesamaan dalam hubungan personil25.
2. Pengertian dan Jenis Kepemimpinan
Suatu hal yang sudah menjadi kenyataan bahwa setiap organisasi pasti membutuhkan pemimpin untuk menjalankan kegiatan kepemimpinan. Pemimpin itu ibarat seorang nahkoda kapal yang menentukan arah kapal berlayar dan dimana kapal tersebut akan berlabuh. Sejalan dengan kiasan itu beberapa pakar telah memberikan beberapa macam definisi tentang kepemimpinan. Diantaranya:
a.James A.F. Stoner dan Charles Wankel (1986:P.445) mengutip pendapat Churchill yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dan keterampilan mengarahkan
b.Stephen P. Robins (1991:354) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok kearah pencapaian tujuan.
c.Robert G. Owens (1995:132) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu interaksi antar suatu pihak yang memimpin dengan yang dipimpin atau kepemimpinan adalah proses dinamis yang dilaksanakan melalui hubungan timbal balik antara pemimpin dengan yang dipimpin.
d.Robert Kreither dan Angelo Krinicki mengemukakan bahwa kepemimpianan adalah upaya mempengaruhi angota untuk mencapai tujuan organisasi secara suka rela.
e.Gibson, dkk (1997:334) mengemukakan bahawa kepemimpinan adalah upaya mengunakan berbagai jenis pengaruh yang bukan paksaan untuk memotivasi anggotaagar mencapai tujuan organisasi.
f.Sedangkan A.Yulk didalam terjemahan Jusuf Udara (1994:2)mengemukakan ada bebrapa pengertian tentang kepemimpinan, yaitu:
Prilaku dari seorang individu yang memimpuin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang hendak dicapai bersama ( Hemhill & Coons, 1957)
Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, yang diarahkan melalui proses komunikasi kearah satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannenbaum, Wescchler & Massarik,1961).
- Proses mempengaruhi aktivitas sebuah kelompok yang di organisasikan kearah pencapaian tujuan (Rauch & Behling, 1984)26.
g. Harold Koontz (1980) menjelaskan, “leadership is generally simply as influence, the art or process of influencing people to that they will strive willingly toward the achievementof group goels”27

Selain dari definisi-definisi diatas, kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan seorang dalam menggerakkan,mengarahkan sekaligus mempengaruhi pola pikir, cara kerja setiap orang agar bersikap mandiri dalam bekerja terutama dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan percepatan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan28.
Di era desentralisasi, terdapat tiga jenis kepemimpinan yang dipandang refresentatif dengan segala tuntutan yang ada, baik tuntutan dari dalam maupun dari luar organisasi. Yaitu:
a. Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang menekankan pada tugas yang diemban bawahannya.pemimpin adalah orang yang men-design pekerjaan dan mekanismenya, dan staf adalah seseorang yang melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuan dan keahlian.
Kepemimpinan traksaksional lebih difokuskan pada peranannya sebagai manajer karena ia sangat telibat dalam aspek-aspek prosedural manajerial metodologis dan fisik. Dikarenakan sistem kerja yang jelas merujuk kepada tugas yang diemban dan imbalan yang diterima sesuai dengan derajat pengorbanan dalam pekerjaan maka kepemimpinan transaksional yang sesuai diterapkan ditengah-tengah para staf yang belum matang, yang menekankan pada pelaksanaan tugas untuk mendapatkan insentif bukan pada aktualisasi diri.
Pola hubungan yang dikembangkan dalam kepemimpinan transaksional adalah berdasarkan suatu sistem timbal balik (transaksi) yang sangat menguntungkan (mutual system of reinforcement), yaitu pemimpin memahami kebutuhan dasar para pengikutnya dan pemimpin menemukan penyelesaian atas cara kerja dari para pengikutnya tersebut29.
b. Kepemimpianan Transformasional
Kepemimpinan transformasional hadir untuk menjawab tantangan zaman yang penuh dengan perubahan. Zaman yang dihadapi saat ini bukan zaman yang ketika manusia menerima segala apa yang menimpanya, tetapi zaman dimana manusia dapat mengkritik dapat meminta yang layak dari apa yang diberikannya secara kemanusiaan.bahkan dalam terminologi Maslow, manusia di era ini adalah manusia yang memiliki keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, yang berimplikasikan pada bentuk pelayanan dan penghargaan terhadap manusia itu sendiri30.
Kepemimpina transformasional tidak hanya didasarkan pada kebutuhan akan penghargaan diri, tetapi menumbuhkan kesadaranpara pemimpin untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan kajian perkembangan manajemen dan kepemimpinan yang memandang manusia,kinerja, dan pertumbuhan oraganisasi adalah sisi yang saling berpengaruh.
Burns (1978) menjelaskan kepemimpinan transformasional sebagai suatu proses yang pada dasarnya ”para pemimpin dan para pengikut saling manaikan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin adalah seorang yang sadar akan prinsip perkembanagan organisasi dan kinerja manusia sehingga ia berupaya mengembangkan segi kepemimpinannya secara utuh melalui pemotivasian terhadap staf dan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan, bukan didasarkan pada emosi seperti keserakahan, kecemburuan, atau kebencian31.
Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memiliki wawasan jauh kedepan dan berupaya memperbaiki dan mengembangkan organisasi bukan saat ini tapi untuk masa depan. Oleh karena itu pemimpin seperti ini bisa dikatakan pemimpin yang visioner.
Menurut Covey (1989) dan Peters (1992), pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran holistic bagaimana organisasi masa depan ketika semua sasarannya telah tercapai. Inilah yang menegaskan bahwa pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mendasarkan dirinya pada cita-cita dimasa depan, terlepas apakah visi, misi itu visioner artinya diakui oleh semua orang sebagai visi yang hebat dan mendasar.
Segiovanni (1990:21) berargumentasi bahwa makna simbolis dari pada tindakan seorang pemimpin transformasional adalah lebih penting dari pada tindakan aktual. Nilai-nilai dasar yang terpenting dan dijunjung tinggi pemimpin adalah segala-galanya dan dapat dijadikan nilai-nilai dasar organisasi yang dijunjung tinggi oleh staf.
Oleh karena itu menjadi tugas pemimpin untuk mentransformasional nilai organiosasi untuk membantu mewujudkan visi dan misi organisasi. Seorang transformasional adalah seorang yang mempunyai keahlian diagnosis, selalu meluangkan waktu dan mencurahkan dan upaya untuk memecahkan masalah dari berbagai aspek.Berusaha memberikan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya kerja cepat semaksimal mungkin dan tampil sebagai pelopor dan agen perubahan32.
c. Kepemimpinan Visioner
Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan manajemen berbasis sekolah adalah pemimpin yang visioner, yaitu pemimpin yang kerja pokoknnya difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan. Lantas, menjadi agen perubahan yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi yang memahami prioritas, menjadi pelatih profesional, serta dapat membimbing personil lainnya kearah profesionalisme kerja yang diharapkan33.
Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang realistik, dapat dipercaya,atraktif tentang masa depan bagi suatu organisasi atau unit organisasional yang terus tumbuh dan meningkat sampai saat ini, (Robin, 2001)34
Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin dalam menciptakan,merumuskan,mengkomunikasikan/mensosialisasikan/mentransformasik-an, mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil dari interksi sosial diantara anggota organisasi dan stakeholders yang diyakini sebagaoi cita-cita organisasi masa depan yang harus diraih atau diwujudkan melalui komitmen semua anggota.
Kepemimpinan visioner salah satunya ditandai oleh kemampuan membuat perencanaan yang jelas sehingga dari rumusan visinya tersebut akan tergambar sasaran apa yang hendak dicapai dari pengembangan lembaga yang dipimpinnya. Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, penentuan sasaran dari rumusan visi tersebut dikenal dengan penentuan sasaran bidang hasil pokok35.
2.Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan pendidikan adalah segenap kegiatan dalam usaha mempengaruhi personal dilingkungan pendidikan pada situasi tertentu agar mereka melalui kerja sama mau bekerja dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan36.
Sedangkan fachrudi (1983:33) mengemukakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan dalam proses mempengaruhi, mengkoordinir orang-orang lain yang ada hubungannya dengan ilmu pendidikan dan pelakasanaan pendidikan dan pengajaran agar kegiatan-kwgiatan yang dijalankan dapat berlangsung lebih efesien dan lebih efektif dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidika dan pengajaran .
Nawawi (1994:82), mangatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi, dan mengarahkan orang-orang di dalam oraganisasi pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya37
Istilah kepemimpinan pendidikan mengandung dua pengertian, dimana pendidikan menerangkan dilapangan apa dan dimana kepemimpinan itu berlangsung, dan sekaligus juga menjelaskan sifat-sifat atau ciri-ciri kepemimpinan, yaitu mendidik, dan membimbing. Sebagaimana kata pendidikan menunjukkan arti yang dapat dilihat dari dua segi, yaitu: pendidikan sebagi usaha atau proses mendidik dan mengajar,dan pendidikan sebagi ilmu pengetahuan yang membahas berbagai masalah tentang hakekat dan kegiatan mendidik, megajar dari zaman ke zaman atau membahas prinsip-prinsip dan praktik-ptaktik mendidik dan mengajar dengan segala cabang yang dikembangkan dengan begitu luas dan mendalam38.
Hal senada juga diungkapkan oleh Abdul Azis Wahab, bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kualitas kegiatan-kegiatan dan integrasi di dalam situasi pendidikan. Kepemimpiana pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan pelakasanaan pendidikan sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efesien39.
Sedangkan menurut Soekarno Indrafachrudi, kepemimpinan pendidikan adalah tiap-tiap orang yang orang yang terpanggil untuk melaksanakan tugas memimpin di dalam lapangan pendidikan. Lebih lanjt beliau menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa dalam dunia pendidikan sehingga tercapailah tujuan40.
Dari beberapa penjelasan pendapat-pandapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, mengkoordinir,menggerakkan,memberi motivasi, dan mengarahkan orang-orang dalam organisasi atau lembaga pendidikan agar pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dapat lebih efesien dan efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran.
3. Syarat-syarat kepemimpinan pendidikan
Pemimpin pendidikan untuk memangku jabatan yang dapat melaksanakan tugas-tugasnya dan memainkan peranannya sebagai pemimpin yang baik dan sukses, maka ditutut beberapa persyaratan sosial,jasmani, rohani, dan moralitas yang baik, bahkan persyaratan sosial ekonomis yang layak. Persyaratan-persyaratan tersebut adalah sebagi berikut:
a.Rendah hati dan sederhana.
b.Suka menolong.
c.Sabar dan memilki kestabilan emosi
d.Percaya diri.
e.Jujur, adil dan dapat dipercaya.
f.Keahlian dalam jabatan41
Hal serupa juga berlaku dalam islam, bahwa ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin atau qadhi. Seperti: seorang qadhi tidak boleh meminta jabatan sebagi pemimpin, apabila ia meminta maka jabatan tidak boleh diberikan padanya. Selain itu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi seorang qadhi:, muslim, berakal, baligh, merdeka, paham al-qur’an dan sunnah, adil, tidak tuli, tidak buta, dan tidak bisu42.
C. KEPALA SEKOLAH
1. Pengertian Kepala Sekolah
Untuk dapat mengartikan definisi kepala sekolah, maka kita harus memahami kedua kata tersebut, yaitu kata ”kepala” dan ”sekolah”. Dalam kamus besar bahasa indonesia diterangkan bahwa kepala sekolah berarti pemimpin di suatu sekolah43
Kata ”kepala” dapat diartrikan sebagai ketua atau pemimpin. Sedangkan sekolah dapat diartikan sebagai sebuah lembaga yang menjadi tempat untuk belajar dan mengajar. Guru yang mengajar dan murid yang menerima pelajaran. Dengan demikian secara sederhana kepala sekolah dapat diartikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang bertugas memimpin suatu sekolah yang menjadi tempat menyelengarakan proses belajar mengajar atau tempat interaksi antara guru dan murid yang memberi dan menerima pelajaran44.
Kata pemimpin dalam rumusan tersebut mengandung makna yang luas, yaitu kemampuan untuk menggerakkan segala sumber daya yang ada pada suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Bila kita memahami lebih jauh, kata ”pemimpin” dapat diartikan sebagai orang yang mempengaruhi orang lain agar orang laian tersebut mau menjalankan apa yang dia kehendakinya. Kalau pengertian ini kita tarik kedalam pemimpin dalam sekolah maka kepala sekolah adalah orang yang harus mampu mempengaruhi orang lain yaitu para staf dan jajarannya dalam sekolah yang ia pimpin untuk bersedia menjalankan program-program yang berkaitan dengan kemajuan dan kesuksesan seuatu sekolah sesuai dengan tujuan45.
Di negara-negara maju, kepala sekolah mendapat sebutan yang bermacam-macam. Ada yang menyebutnya sebagai guru kepala ( head teacher atau head master), ada cuma dengan kepala (prinsiple), ada yang mengatakan kepala sekolah yang mengajar (teaching prinsiple), ada juga yang mengatakan kepala sekolah pensupervisi (supervising prinsiple), ada yang menyebutnya pemimpin pendidikan ( educational leadership) dan ada juga yang menyebutnya dengan direktur (directur) (Arifin, 1998:44-45).
Menurut Mantja (1996:26), perbedaan penyebutan ini disebabkan oleh adanya kriteria yang mempersyaratkan kompetensi profesional kepala-sekolahan. Sebagai administrator, kepala sekolah harus mampu mendayagunkan sumber daya yang ada secara optimal. Sebagai manajer, kepala sekolah harus mampu bekerja sama dengan orang lain dalam organisasi sekolah. Sebagai pemimpin sekolah, kepala sekolah harus mampu mengkoordinasikan dan menggerakkan potensi manusia untuk mewujudkan tujuan pendididkan. Sebagai supervisor, kepala sekolah harus mampu membantu guru meningkatkan kapasitas untuk membelajarkan murid secra optimal, dan seterusnya46.
2. Fungsi Peran dan Kepala Sekolah
Fungsi utama pemimpin pandidikan atau kepala sekolah adalah kelompok untuk belajar memutuskan dan bekerja, antara lain:
a. Pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerja sama dengan penuh rasa kebebasan
b. Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan dan menjelaskan tujuan.
c.Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja yaitu membentu kelompok dalam menganalisis situasi untuk kemudian menetapkan prosedur mana yang paling praktis dan efektif.
d. Pemimpin bertanggung jawab untuk mengambil keputusan bersama dengan kelompok. Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman. Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk melatih kelompok untuk menyadari proses dan isi pekerjaan yang dilakukan dan berani menilai hasilnya secara jujur dan objektif.
e.Pemimpin bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi organisasi47.
Kyte (1972) mengatakan bahwa kepala sekolah memiliki lima fungsi utama. Pertama, bertanggung jawab atas keselamatan,kesejahteraan dan perkembangan murid-murid yang ada dilingkungan sekolah. Kedua, bertanggung jawab atas keberhasilan dan kesejahteraan profesi guru. Ketiga, berkewajiban memberikan layanan sepenuhnya yang berharga bagi murid-murid dan guru-guru yang mungkin dilakukan melaui pengawasan resmi yang lain. Keempat, bertanggung jawab mendapatkan bantuan maksimal dari semua institusi pembantu. Kelima, bertanggung jawab untuk mempromosikan murid-murid terbaik melalui berbagai acara.
Sebagai pemimpin pendidikan dari sekolahnya, seorang kepala sekolah mengorganisasikan sekolah dan personil yang bekerja di dalamnya kedalam situasi yang efesien, demokratis dan kerja sama institusional yang tergantung pada keahlian para pekerja. Dibawah kepemimpinnya, program pendidikan untuk para murid harus direncanakan, diorganisir,dan ditata. Dalam pelaksanaan program, kepala sekolah harus mampu memimpin secara profesional para staf pengajar, bekerja secara ilmiah, penuh perhatian, dan demokratis dengan menekankan pada perbaikan proses belajar mengajar, dimana sebagian besar kreativitas akan tercurahkan untuk perbaikan pendidikan (Kyte, 1972)48
Dinas pendidikan telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebgai edukator,manajer administrator, dan supervisor (EMAS). Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman, kepala sekiolah juga harus mampu berperan sebagai leader,innovator, dan motivator di sekolahnya. Sehingga dengan demikian, dalam paragdigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah sedikitnya harus mampu berperan sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor,leader, inovator dan motivator (EMASLIM) semua itu mutlak harus dipahami oleh seorang kepala sekolah, dan yang lebih penting lagi adalah mengamalkan dan menjadikannya dalam bentuk tindakan nyata di sekolah.
a.Kepala Sekolah Sebagai Edukator
Dalam melaksanakannya perannya sebagi seorang pendidik, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasihat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependididkan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik, seperti team teaching, moving class, dan mengadakan program akselarasi bagi peserta didik yang cerdas diatas normal49.
Di antara kemampuan yang harus dimilikim oleh seorang kepala sekolah sebagai seorang pendidik adalah: dapat membuat proca, kisi-kisi soal, melaksanakan program pengayaan dan perbaikan,membimbing guru, melaksanakan tugas, memberikan alternatif pembelajaran yang efektif, membimbing karyawan, tata usaha, pustakawan, bendaharawan, staf, siswa, mampu mengikuti perkembangan iptek dan lain sebagainya50.
Sumidjo (1999:122) mengemukakan bahwa memahami arti pendidik tidak cukup berpegang pad konotasi yang terkandung dalam definisi pendidik, melainkan harus dipelajari keterkaitannya dengan makna pendidikan, sarana pendidikan, dan bagaimana strategi pendidikan itu dilaksanakan. Untuk kepentingan tersebut kepala sekolah harus berusaha menanamkan,memajukan dan mreningkatkan setidaknya empat macamn nilai, yaitu pembinaan mental, pembinaan moral, pembinaan fisik, pembinaan artistik51.
Keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan nomor 0296/U/1996, merupakan landasan penilaian kinerja kepala sekolah. Sebagai edukator harus memiliki beberapa kemampuan, yaitu:
Pertama, kemampuan untuk membimbing guru terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan program pembelajaran dan bimbingan konseling (BK), penilaian hasi belajar peserta didik, dan pengembangan program melalui kegiatan pengayaan dan perbaikan pembelajaran (remedial teaching).
Kedua, membimbing tenaga kependidikan non guru dalam penyusunan program kerja, dan pelaksanaan tugas sehari-hariserta mengadakan penilaian dan pengendalian terhadap kinerjanya secara periodik dan berkesinambungan.
Ketiga, membimbing peserta didik terutama yang berkaitan dengan kegiatan ektrakulikuler,partisipasi dalam berbagai kegitan perlombaan kesenian,olah raga dan mata pelajaran. Kemampuan ini akan semakin penting bila kita kaitkan dengan manajemen peninghkatan mutu berbasis sekolah, dimana kepala sekolah tidak hanya dituntut untuk meningkatkan prestasi akademis, tetapi juga harus mampu meningkatkan berbagai prestasi peserta didik dalam kegiatan non akademis, baik di sekolah maupun di masyarakat.
Keempat, mengembangkan tenaga kependidikan terutama yang berkaitan dengan pemberian kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk mengikuti berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan secara teratur, seperti revitalisasi musyawarah guru mata pelajaran (MGMP),musyawarah guru pembimbing (MGP), dan kelompok kerja guru (KKG), diskusi, seminar, lokakarya dan lain-lain.
Kelima, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Hal ini dapat ditingkatkan melaui pendidikan pelatihan. Seperti: musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS), mengikuti diskusi, seminar,dan lokakarya dalam profesinya, menganalisis dan mengkaji berbagai bahan bacaan, serta menelusuri berbagai perkembangan informasi melalui media elektronik.
Keenam, memberi contoh model pembelajaran dan bimbingan konseling (BK) yang baik dengan menganalisis terhadap materi pelajaran (AMP), program tahunan (PT), program semester (PS), dan program pembelajaran (PP), serta mengembangkan daftar nilai peserta didik dan program layanan bimbingan konseling (BK)52
b. Kepala Sekolah Sebagai Seorang Manajer.
Siagian (1978) ”manjemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk meperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain”53.
Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota-anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber daya organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dari definisi tersebut, yaitu proses, pendayagunaan seluruh sumber daya oraganisasi dan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan54.
a. Proses, adalah suatu cara sistematis dalam mengerjakan sesuatu. Sebagai seorang manajer harus bergerak dan mengusahakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah: Pertama, merencanakan, dalam arti kepala sekolah harus benar-benar memikirkan dan merumuskan dalam suatu program tujuan dan tindakan yang harus dilakukan.
Kedua, mengorganisasikan, yaitu kepala sekolah harus mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia dan sumber daya materil sekolah. Sebab, keberhasilan sekolah sangat bergantung pada kecakapan dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya yang ada.
Ketiga, memimpin, yaitu kepala sekolah harus mampu mengarahkan dan mempengaruhi seluruh sumber daya manusia untuk melakukan tugas-tugas yang esensial. Dengan menciptakan suasana yang tepat kepala sekolah membantu sumber daya manusia untuk melakukan hal-hal yang terbaik.
Keempat, mengendalikan, dalam arti kepala sekolah memperoleh jaminan bahwa sekolah berjalan mencapai tujuan. Apabila terdapat kesalahan pada bagian-bagian yang ada maka kepala sekolah harus memberikan petunjuk dan meluruskannya.
b. Sumber daya suatu sekolah, meliputi, dana, perengkapan, informasi, maupun sumber daya manusia yang masing-masing berfungsi sebagai pemikir, perencana, pelaku serta pendukung untuk mencapai tujuan.
c. Mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.berarti bahwa kepala sekolah berusaha untuk mencapai tujuan akhir yang bersifat khusus. Tujuan yang sfesifik ini berbeda-beda antara organisasi yang satu dengan organisasi lainnya. Tujuan ini bersifat khusus dan unik, namun manajemen adalah merupakan proses, melalui manajemen tersebut tujuan akan tercapai.




Berdasarkan uraian tersebut, seorang manajer atau seorang kepala sekolah pada hakekatnya adalah seoarang perencana, organisator, pemimpin, dan seorang pengendali55.
Menurut Robert Katz (dalam sergiovani & carver,1980), ada tiga bidang keterampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh seorang manajer pendidikan, yaitu keterampilan konseptual (conceptual skill),keterampilan hubungan manusia (human skill), dan keterampilan tehnik (technical skill). Ketiga keterampilan tersebut dipertlukan untuk melaksanakan tugas manjerial secara efektif, meskipun penerapan masing-masing keterampilan tersebut tergantung pada tingkatan manajer dalam organisasi56.
Dalam rangka melaksanakan fungsi dan perannya sebagai seorang manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melaui kerja sama atau koorporatif, kemudian memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah57.
Dalam melaksanakan hal-hal diatas, kepala sekolah dapat berpedoman kepada beberapa azas, seperti:
a Azas tujuan, yang bertolak dari anggapan bahwa kebutuhan tenaga kependidikan akan harga dirinya mungkin dicapai dengan turut menyumbang pada suatu tujuan yang lebih tinggi.
b Azas keunggulan, yang bertolak pada bahwa setiap tenaga kependidikan membutuhkan kenyamanan, kepuasan dan penghargaan pribadi.
c. Azas mufakat, yang bertolak pada keharusan kepala sekolah menghimpun gagasan bersama serta membangkitkan tenaga kependidikan untuk berfikir kreatif dalam melaksanakan tugasnya.
d. Azas kesatuan, kepala sekolah harus menyadarai bahwa tenaga kependidikan tidak ingin dipisahkan dari tanggung jawabnya.
e. Azas persatuan, kepala sekolah harus mendorong para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesionalismenya dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi
f. Azas empirisme, kepala sekolah harus mampu bertindak berdasarkan atas nilai dan angka-angka yang menunjukkan prestasi para tenaga kependidikan
g. Azas keakraban, kepala sekolah harus berupaya menjaga keakraban dengan para tenaga kependidikan agar tugas-tugas dapat dikerjakan dengan lancar.
h. Azas integritas, kepala sekolah harus memandang bahwa peran kepemimpinannya adalah suatu komponen kekuasaan untuk menciptakan dan memobilisasi energi seluruh tenaga kependidikan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin58.
C. Kepala sekolah sebagai administrator.
Ada banayak bidang administrasi yang harus di kuasai oleh seorang kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang administrator, baik yang berkenaan dengan adminmistrasi yang bersifat pencatatan, penyususnan dan pendokumenan seluruh program sekolah. Namun secara lebih terperinci, kepala sekolah harus berkemampuan untuk mengelola kurukulum, administrasi peserta didik, administrasi persolnalia, administrasi sarana dan prasarana, administrasi kearsipan, administrasi keuangan.
Dalam mengelola administrasi kurikulum dapat dibuktikan dalam bentuk penyususnan kelengkapan data tentang pembelajaran, data tentang bimbingan konseling, data tentang kegiatan praktikum, dan kelengkapan data tentang kegiatan belajar peserta didik di perpustakaan59. Dalam pendataan administrasi peserta didik dapat dilakukan dengan penyususnan data administrasi peserta didik, kelengkapan data ektrakulikuler, dan data tentang hubungan sekolah dengan orang tua wali.
Sedangkan dalam hal administrasi personalia harus diwujudkan dalam penegembangan kelengkapan data administrasi tenaga pengajar, data tentang administrasi tenaga kependidikan non guru, seperti pegawai tata usaha, pustakawan, penjaga sekolah dan teknisi.
Begitu juga dengan hal yang berkaitan dengan pengelolaan administrasi kearsipan harus ditunjukkan dalam pengembangan data surat masuk, surat keluar, surat keputusan, dan kelengkapan pengemgbanagn surat edaran. Sementara dalam bidang sarana dan prasarana dapat diwujudkan dalam data administrasi tentang gedung, tata ruang, meubeler, alat mesin kantor, buku dan alat laboratorium.
Dalam melakasanakan tugasnya sebagai seorang administrator, kepala sekolah harus dapat menganalisa berdasarkan pendekatan, baik pendekatan sifat, pendekatan prilaku, maupun pendekatan situasional. Dalam hal ini kepala sekolah harus bertindak situasional sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Meskipun demikian, pada hakekatnya kepala sekolah harus mengutamakan tugas, agar tugas-tugas yang diberikan kepada tenaga kependidikan bisa dilaksanakan dengan baik. Disamping berorientasi pada tugas, kepala sekolah juga harus menjaga hubungan kemanusiaan dengan para stafnya agar para staf selalu senang menjalankan tugas mereka karena merasa dihargai60.
d. Kepala Sekolah Sebagi Supervisor
Tugas kepala sekolah sebagai seorang supervisor adalah untuk mensupervisi kinerja para tenaga kependidikan dalam menjalankan tugas mereka agar kegiatan utama di sekolah yaitu kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efesien.
Dalam melaksanakan kegiatan supervisi, tidak ada salahnya kepala sekolah langsung yang melaksanakan, tetapi dalam sistem pendidikan yang sudah modern sangat diperlukan seorang supervisor khusus yang lebih independent, dan dapat meningkatkan objektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugasnya61
Bidang supervisi pendidikan berusaha memperbaiki cara guru mengajar, car murid belajar,meningkatkan mutu serta menggunakan pelajaran dan sebagainya. Semua itu bertujuan untuk mempertinggi mutu pendidikan dan pengajaran. Usaha0usaha untuk meningkatkan mutu itu dilaksanakan dengan pengawasan dan bimbingan yang teratur. Seorang supervisor bekerja sama dengan para guru, tugasnya adalah membantu guru dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehubungan dengan pelaksanaan tugasnya dikelas. Guru-gurupun akan berusaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pelajarannya demi perkembangan jabatan dan karier masing-masing62.
Tugas pengawasan dan penggendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam menjalankan tuagasnya.
Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah sebagai supervisor harus memperhatikan beberapa prinsip. Diantaranya: hubungan konsultatif, kolegal dan bukan hirarkhis. Dilaksanakan secara demokratis, berpusat pada guru, dilakukan berdasarkan kebutuhan guru, dan merupakan bantuan profesional.
Kegiatan supervisi ini dapat dilakukan dengan diskusi kelompok, kunjungan kelas, pembicaraan individual, dan simulasi pembelajaran. Cara-cara ini adalah cara-cara yang efektif yang dapat di praktekkan kepala sekolah.
Dalam hal diskusi kelompok harus melibatkan para guru, dan bisa juga melibatkan tenaga administrasi, hal ini berfungsi untuk memecahkan masalah yang ada dan berusaha untuk mencapai suatu keputusan bersama.
Kunjungan kelas adalah cara yang sangat efektif untuk mendapatkan data langsung dillapangan. Dalamn kegiatan ini kepla sekolah dapat melihat langsung bagaimana profesionalisme seorang guru dalam mengajar, baik cara penyampaiannya maupun penentuan metode pembelajarannya63.
Kunjungan kelas ada tiga macam. Pertama kunjungan yang diberitahukan terlebih dahulu. Kedua, kunjungan secara tiba-tiba. Ketiga kunjungan atas undangan guru tertentu. Selama kunjungan kelas, kepala sekolah mengambil tempat dibelakang kelas dan mengamati hal yang terjadi dari dekat. Supervisor tidak boleh mengganggu guru ketika sedang bertugas64.
Pembicaraan individual adalah tehnik kepala sekolah memberikan konseling kepada para guru baik yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran maupun yang menyangkut dengan profesionalisme guru. Tehnik ini sangat tepat terutama dalam memecahkan masalah-masalah yang menyangkut pribadi tenaga kependididkan.
Simulasi pembelajaran adalah tehnik supervisi yang berbentuk demontrasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah sehingga para guru dapat menganalisa penampilan kepala sekolah untuk menjadi bahan eveluasi dan introspeksi dirinya65.
e. Kepala Sekolah Sebagai Leader
Kemampuan yang harus dimilki kepala sekolah sebagai seorang leader dapat di analisis dari kepibadiannya, pengtehuannya terhadap peserta didik, visi dan misi sekolahnya, kemampuannya mengambil keputusan, dan kemampuan berkomunikasi.
Kepribadian kepala sekolah akan tercermin dari sifat-sfatnya yang jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko, dan keputusan, berjiwa besar, emosinya stabil, dan dapat dicontoh.
Pengetahuan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikan akan tercermin dalam kemampuannya memahami kondisi tenaga kependidikan baik guru maupun non guru, memahami kondisi dan karakteristik peserta didik, mau menerima masukan, saran, kritikan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kepemimpinannya.
Pemahaman terhadap visi dan misi sekolah akan tercermin dari kemampuannya untuk mengembangkan visi sekolah, mengembangkan misi sekolah, dan melaksanakan program untuk mewujudkan visi dan misi kedalam tindakan.
Kemampuan mengambil keputusan akan tercermin dari kemampuannya dalam mengambil keputusan bersama tenaga kependididkan di sekolah, mengambil keputusan untuk kepentinagn internal sekolah, dan mengambil keputusan untuk kepentingan ekternal sekolah.
Kemampuan berkomunikasi akan nterlihat dari kemampuannya untuk berkomuinikasi secara lisan dengan seluruh tenaga kependididkan, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, berkomunikasoi secara lisan kepada peserta didik, orang tua wali, dan masyarakat sekitar lingkungan sekolah66.
Dalam implementasinya, kepala sekolah sebagai leader, kepala sekolah dapat di analisis sifat kepemimpinannya, yakni kepemimpinan demokratik, otoriter, laissez- faire. Ketiga sifat kepemimpinan tersebut sering dimiliki secara bersamaan oleh seorang leader sehingga dalam melaksanakan kepemimpinannya, sifat-sifat tersebut muncul secra situasional. Oleh karena itu kepala sekolah sebagai seorang leader bisa saja bersifat otoriter, demokratik ataupun laissez faire. Adakalanya kepala sekolah bersifat demokratik akan tetapi keadaan yang menuntutnya untuk bersifat otoriter maka sifat otoriter itulah yang lebih cepat digunakan dalam pengambilan keputusan.
Dengan dimilikinya ketiga sifat tersebut oleh seorang kepoala sekolah sebagai leader, maka dalam menjalankan roda kepemimpinannya di sekolah, kepala sekolah dapat menggunakan strategi yang tepat, sesuai dengan tingkat kematangan para tenaga kependididkan dan kombinasi yang tepat antara prilaku tugas dan prilaku hubungan., strategi tersebut dapat dilaksankan dengan gaya mendikte, menjual, melibatkan dan mendelegasikan.
Gaya mendikte dapat di gunakan ketika para tenaga kependididkan berada dalam tingkat rendah, sehinga perlu petunjuk dan serta pengawasan langsung, gaya menjual dapat digunakan ketika kondisi tenaga kepndidikan berda dalan taraf rendah sampai moderat, sehingga mereka telah memiliki kemauan meningkatkan profesionalismenya tetapi tidak didukung oleh kemampuan yang memadai. Gaya melibatkan digunakan ketika tenaga kependidikan berada pada taraf kematangtan moderat sampai tinggi. Ketika mereka mempunyai kemampuan tetapi belum memiliki kemauan kerja dan kepercayaan diri dalam meningkatkan profesionalismenya. Gaya mendelegasikan dapat digunakan ketika para tenaga kependididkan memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghadapi persoalan dan punya kemauaan untuk meningkatkan profesionalismenya67.
f. Kepala sekolah sebagai innovator.
Dalam melaksanaka tugas dan fungsinya sebagai seorang innovator kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenagfa kependidikan sekolah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.
Kepala sekolah yang innovatif akan tercermin dari cara-cara ia melakukan kegiatan secara konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional dan objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin serta adaptabel dan fleksibel.
Kontruktif, dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kepenmdidikan di sekolah, kepala sekolah harus berusaha mendorong dan membina setiap tenaga kependidikan agar dapat berkembang secara optimal dalam melakukan tugas-tugas yang diembankan kepada masing-masing tenaga kependidikan.
Kreatif, dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan kepala sekolah harus berusaha mencari gagasan dan cara-cara baru dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini dilakukan agar para tenaga kependididkan dapat memahami apa-apa yang disampaikan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin, sehingga dapat mencapai tujuan sesuai dengan yang ditetapkan.68
Delegatif, dimaksudkan bahawa kepala sekolah berusaha mendelegasikan tugas kepada tenaga kependidikan sesuai dengan deskripsi tugas, jabatan, serta kemampuan masing-masing.
Integratif, dimaksudkan bahwa kepala sekolah harus berusaha mengintegrasikan semua kegiatan sehingga dapat menhgahasilkan sinergi untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif, efesien dan produktif69.
Rasional dan objektid, dimaksudkan bahwa kepala sekolah harus beruaha bertindak berdasrkan pertimbangan rasionalitas dan objektifitas
Pragmatis, dimaksudkan bahwa kepala sekolah harus berusaha mentapkan kegiatan atau target berdasrkan kondisi dan kemampuan nyata yang dimiliki oleh setiap tenaga kependidikan serta kemampuan yang dimiliki oleh sekolah.
Keteladanan, dimaksudkan bahawa dalam meniongkatkan profesinalisme tenaga kependidikan kapala sekolah harus memberikan keteladan yang baik dan agar bisa dicontoh oleh mereka.
Adaptasi dan fleksible, dimaksudkan bahwa kepala sekolah harus mampu beradaptasi dan fleksible dalam menghadapi situasi baru, serta berusaha menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan memudahkan tenaga kependidikan untuk beradaptasi dalam melaksanakan tugasnya70.
g. Kepala sekolah sebagai motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus mempunyai strategi yang tepat untuk memotivasi para tenaga kependidikan dalam menjalankan tugasnya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan dengan beberapa cara:
Pertama, pengaturan lingkungan fisik, yang mencakup ruang kerja yang kondusif, ruang belajar, ruang perpustakaan, laboratorium, serta lingkungan sekolah yang nyaman dan menyenangkan.
Kedua, pengaturan suasana kerja, dengan cara menciptakan hubungan kerja yang harmonis dengan para staf serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan menyenangkan.
Ketiga, disiplin. Ada beberapa langka yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan para tenaga kependidikan yaitu: membantu para tenaga kependidikan mengembangkan pola prilakunya, membantu tanaga kependidikan dalam meningkatkan standar prilakunya, dan melaksanakan semua aturan yang telah disepakati71.
Keempat, dorongan, kepala sekolah harus mengetahui keadaan psikis setiap individu tenaga kependidikan, semuanya tidak sama. Semua butuh perhatian yang berbeda-beda pula agar bisa mendorong dia agar selalu termotivasi melaksanakan tugasnya. Dorongan itu bisa dilakukan dengan cara membuat kegaiatan disekolah selalu menarik dan mengasyikkan bagi mereka.
Kelima, penghargaan, hal ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan profesionalisme dan mengurangi kegiatan yang tidak produktif dari para tenaga kependidikan. Pelakasanaan penghargaan dapat dikaitkan dengan prestasi tenaga kependidikan secara terbuka, sehingga mereka memiliki peluang untuk meraihnya72.
3.Kompetensi Kepala Sekolah Yang Berkualitas
Istilah kompetensi berasal dari bahasa inggris ”competency” yang berarti kecakapan, kemamapuan dan wewenang. Seseorang dinyatakan berkompeten dibidang tertentu jika mempunyai kecakapan bekerja sebagai suatu keahlian selaras dengan bidangnya.
Kepala sekolah dalam mengelola satuan pendidikan disyaratkan menguasai keterampilan dan kompetensi tertentu yang dapat mendukung pelaksanaan tugasnya73.
Sahertian (1992) mengartikan kompetensi sebagai kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Hal senada diungkapkan oleh Supandi (1990) bahwa kompetensi adalah seperangkat kemampuan untuk melakukan suatu jabatan dan bukan semata-semata pengetahuan saja.
Dengan demikian kompetensi kepala sekolah adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan kepala sekolah dalam kebiasaaan berfikir dan bertindak secara konsisten yang memungkinkan menjadi kompeten atau berkemampuan dalam mengambil keputusan tentang penyediaan, pemamfaatn dan peningkatan potensi sumberdaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah74.
Beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekoilah dalam menjalankan tugasnya adalah:
a. Kompetensi merumuskan visi.
Vivsi merupakan pernyataan tujuan organisasi, sebuah masa depan organisasi yang lebih baik , lebih berhasil karena visi merupakan kunci energi manusia, kunci atribut pemimpin dan pembuat kebijakan.
Perumusan visi merupakan tugas pimpinan pada tingkat atas, jika dalam satuan prendidikan maka kepala sekolah yang berkewajiban merumuskan visi sekolah. Dalam perumusan visi kepala sekolah harus memahami elemen visi kepemimpinan dan manajemen sekolah.
Calwell dan Spinks(1993) mengemukakan bahwa visi kepemimpinan dan manajemen sekolah tahun 1990-an memiliki empat elemen. Pertama, concept of self management, artinya visi harus menuju konsep pengelolaan sendiri menurut kebutuhan sekolah dan masyarakat. Kedua, pentrukturan sistem sekolah, artinya visi harus mengarah ke bentuk organisasi baru dengan mengadaptasikan peraturan, hubungan dan tanggung jawab sebagai kenyataan budaya berkelanjutan. Ketiga, ciri-ciri pengajaran sebagai suatu profesi, artinya visi diarahkan pada suatu peningkatan profesionalisme yang belum pernah terjadi sebelumnya di sekolah negeri sebagaimana profesi bidang hukum dan kesehatan75.
b. Kompetensi merencanakan program.
Handoko (1992) mengemuklan bahwa, perencanaan adalah pemilihan sekumnpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya tentang apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa pelakasanaannya.
Kompetensi kepala sekolah dalam merencanakan program meliputi kemampuan dalam menetapkan tujuan-tujuan sekokah yang didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan masyarakat, menetapkan keadaan pendidikkan saat ini pada suatu masyrakat tertentu, merumuskan progran khusus tentang tujuan-tujuan bagi sekolah, dan menetapkan rangkaian tindakan yang perlu untuk mencapai tujuan,mewujudkan rencana menjadi tindakan, secara rutin mengadakan penilaian terhadap pencapaian program, dan merencanakan kembali jika hasil penilaian menyatakan bahwa standar yang diinginkan belum tercapai76.
c. Kompetensi membangun komunikasi.
Upaya membina komunikasi tidak sekedar untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi guru dan karyawan, tetapi yang lebih penting adalah setiap personil sekolah dapat bekerja dengan tenang, penuh kesadaran, dan motivasi untuk berprestasi. Dengan terciptanya komunikasi yang baik, maka guru, karyawan dan kepala sekolah terlibat secara aktif dalam program sekolah.
Mengingat peranan komunikasi yang sangat penting untuk mengkoordinasikan sumberaya sekolah dan penyampaian pesan program atau kebijakan sekolah,maka kepala sekolah perlu memperhatikan hal-hal sepreti: Memberi kesempatan kepada guru unutk mengemukakn pendapat sehingga terjalin komunikasi dua arah, berperan sebagai pengarah atau pengatur pembicaraan dan perantara pengambil keputusan, tidak memaksa kehendak dan menciptakan suasana yang penuh persahabatn, mengembangkan kebiasaan diskusi terbuka serta memberi kesempatan pada guru untuk berani mengambil keputusan yang terbaik dalam melaksanakan tugas77.
d. Kompetensi hubungan masyrakat dan kerja sama
Untuk meningkatkan pelayanan sekolah diperlukan dukungan masyarakat melalui gagasan yang dapat melipatgandakan partisipasi. Karena itu kepala sekolah melalui bidang humas perlu menggalang sumber daya masyarakat untuk membangaun lembaga independen (dewan sekolah/ komite sekolah) untuk menampung masukan dan sumber dana masyarakat yang diperlukan untuk penyusunan, pelaksanaan, dan pembiayaan program sekolah.
Untuk melibatkan masyarakat, kepala sekolah harus memilki kemapuan untuk memfasilitasi pertemuan-pertemuan dengan anggota masyarakat. Pertemuan berkaitan dengan penyusunan program sekolah, evaluasi program yang telah dilaksanakan, atau dalam rangka pertanggungjawaban komite sekolah78.
e Kompetensi mengelola sumberdaya manusia
Pengelolaan sumber daya manusia berkaitan denga keefektifan organisasi sekolah. Dikemukakan oleh Soetopo (2000:113) bahwa organisasi dikatakan efektif jika organisasi itu mempu mengambil keuntungan dari situasi lingkungan dan memberdayakan sumber-sumber agar bermamfaat. Dengan demikian, keberhasilan suatu sekolah terletak pada kemampuan pimpinan dalam mengelola semua sumberdaya yang tersedia termasuk pemberdayaan masyarakat sekitar79.
Untuk penyediaan dan pemamfaatan sumber daya manusia secara efektif dan efesien, tugas pertama kepala sekolah adalah menganalisis jabatan dalam konteks rencana atau tujuana jangka panjang. Sebagaimana dikemukakan oleh Meginson, Frankin, dan Byrd (1995) bahwa proses analisa jabatan akan menghasilakn dua hal. Pertama, pengembangan deskriftif jabatan yang meliputi identifikasi jabatan, ringkasan jabatan, tugas dan tanggungjawab. Kedua, pengembangan spesifikasi jabatan, meliputi identifikasi keterampilan, pengetahuan, kemampuan, dan karakteristik personal yang disyaratkan dalam melaksanakan jabatan80.
f. Kompetensi pengambilan keputusan
Dikemukakan oleh Stoner dan Freeman (1994), bahwa pengambilan keputusan merupakan proses mengidentifikasi dan memilih cara bertindak menghadapi suatu masalah atau memamfaatkan suatu peluang81.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Siagian (1989) pengambilan keputusan adalah pendekatan yang sistematis terhadap masalah yang dihadapi. Pendekatan sistematis yang dimaksud adalah menyangkut pengetahuan tentang hakekat suatu masalah yang dihadapi, pengumpula data dan fakta yang relevan dengan masalah, analisa masalah, mencari alternatif pemecahan, menganalisa setiap alternatif sehingga ditemukan alternatif yang paling rasional dan penilain hasil yang dicapai sebagai akibat keputusan yang diambil.
Keberhasilan kepala sekolah dalam mengambil keputusan sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai yang dianut oleh warga sekolah serta tinggi rendahnya keyakinan mereka terhadap kemampuan oraganisasi dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Dengan kata lain, apabila personil sekolah merasa yakin terhadap kemampuan sekolah ,maka tugas kepala sekolah untuk mengambil keputusan akan lebih mudah. Akan tetapi bila personil marasa pesimis, bersikap apatis, maka tugas pengambilan peputusan akan menjadi lebih sulit82.
g. Kompetensi mengelola konflik
Keberadaan konflik dalam organisasi tidak dapat dihindarkan. Dengan kata lain bahwa konflik akan selalu ada dalam perjalanan organisasi. Konflik dalam kondisi tertentu mampu mengidentifikasi sebuah proses pengelolaan lingkungan dan sumberdaya yang tidak berjalan dengan efektif, mempertajam gagasan, bahkan dapat memperjelas kesalahpahaman83.
Dalam kehidupan yang dinamis antar individu dan antar komunitas baik dalam organissasi maupun dalam masyarakat yang majemuk , konflik akan selalu terjadi manakala saling berbenturan kepentingan. Konflik dapat didefinisikan sebagai suatu proses interaksi sosial dimana dua oarang atau lebih berbeda atau bertentangan dalam tujuan dan pendapat mereka84.
Dalam keadaan seperti ini , maka kepala sekolah harus bisa memahami akar peneyebab terjadinya konflik, dan mampu menjadikan semuanya sebagai bahan koreksi terhadap kinerja semua lini dalam organiasi agar menjadi bahan pertimbangan dimasa yang akan datang.








BAB III

A. METODE PENELITIAN
1 Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripskan suatu proses kegiatan ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (PPH) dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang meliputi upaya-upaya srtategis dalam menyeleksi, menempatkan, dan memberdayakan. Kemudian mendeskripsikan kendala-kendala sekaligus bagaiman solusinya. Berdasarkan apa yang terjadi di lapangan dengan menggunakan pendekatan fenomenologis dan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dilapangan dan dilakukan dengan berbagai metode yang ada85
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaah dokumen. Metode ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, metode ini lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataaan yang bersifat jamak. Kedua, metode ini menyajikan langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responen. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.86
Dalam penelitian ini peneliti berusaha memusatkan perhatian pada proses obyek yang diteliti daripada hasil. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa hubungan antara bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih luas bila diamati dalam proses.87
2. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah merupakan benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekat dan yang dipermasalahkan88
Adapun yang menjadi subyek dari penelitian ini adalah ketua yayasan, para jajaran dan staf, dan orang-orang yang berpengalaman dalam proses peningkatan kualitas kepemimpinan kepala sekolah walaupun mereka sudah tidak aktif dalam yayasan terebut.
3. Responden Penelitian
Reponden penelitian adalah orang yang dapat merespon dan memberikan informasi tentang data penelitian.89
Responden penelitian ini adalah ketua yayasan, para staf dan jajaran serta orang-orang yang berpengalaman dalam lembaga tersebut walaupun sudah tidak lagi aktif sebagai pegawai resmi ( para pensiunan).
4. Sumber dan Jenis Data.
a. Sumber Lisan.
Kata-kata atau tindakan orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui rekaman video, pengambilan foto atau film.90
Dalam penelitian ini yang menjadi sumber lisan adalah data yang berupa kata-kata atau keterangan ketua lembaga, para staf dan orang-orang yang berpengalaman dalam lembaga ini.
b. Sumber Tertulis.
Walaupun dikatakan bahwa sumber diluar kata dan tindakan adalah sumber kedua, namun tidak bisa diabaikan. Dilihat dari sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku, majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.91
Sumber tertulis dalam poenelitian ini adalah data-data yang diambil dari dokumen lembaga tentang profil lembaga dan perkembangannya. Informasi tertulis dari arsip tentang strategi ketua dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah seperti data kepala sekolah, syarat dan ktriteria-kriteria menjadi kepala sekolah, biografi kepala sekolah, dan bukti-bukti tertulis proses pemberdayaan kepala sekolah seperti jadwal pelatihan atau training kepala sekolah serta dokumen-dokumen resmi lainnya yang berkaitan.
5. Prosedur Penelitian.
a. Tahap Persiapan
Pada tahap ini, peneliti melakukan penyususnan panduan wawancara untuk selanjutnya digunakan sebagai pedoman dalam proses penelitian.
b. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, peneliti melakukan pengumpulan data melalui dua cara, yaitu wawancara dan dokumentasi.
c. Tahap Penyelesaian
Pada tahap ini merupakan tahapan terakhir, yaitu mengorganisir data dari hasil wawancara dan dokumentasi untuk kemudian memberikan analisa data dan menyimpulkannya.
6. Tehnik Pengumpulan Data.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa tehnik pengumpulam data antara lain:
a. Wawancara ( Interview)
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topk tertentu.92
Dalam wawanacara ini peneliti menggunakan jenis wawancara terbuka yang para subyeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud dan tujuan wawancara tersebut.93
Nara sumber wawancara ini adalah ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (PPH), beberapa staf dan orang-orang mengerti dengan lembaga ini seperti mantan pengurus atau ketua dari lembaga ini. Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang strategi ketua PPH dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah SD Integral Lukman Al-Hakim Surabaya.
b. Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu kegiatan pengambilan data dari dokumen. Dokumen itu sendiri berarti catatan peristiwa masa lalu baik yang berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya menumental dari seseorang.94
Lebih lanjut dijelaskan oleh Iskandar (2009), bahwa dokumentasi adalah penelaahan terhadap refrensi-refrensi yang berhubungan dengan fokus permasalahan penelitian. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah dokumen pribadi, dokumen resmi, refrensi-refrensi, foto-foto, dan rekaman kaset95
Adapun dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen notulen rapat, daftar nama-nama kepala sekolah beserta identitas dirinya, termasuk juga profil lembaga serta dokumen-dokumen lain yang berhubungan.
7.Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data adalah alat untuk mengumpulkan data. Dalam pengumpulan data ini, peneliti membutuhkan insrtumen yang tidak bisa terlepas dari proses pengumpulan data tersebut. Adapun instrumen yang dibutuhkan dalam jenis pengumpulan data melalui wawancara adalah
a. Peneliti
Dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif, faktor manusia merupakan faktor utama dalam pngumpulan data, sebab peneliti terjunlangsung dalam penelitian ini, sehingga peneliti adalah instrumen utama dalam penelitian ini.
b. Pedoman wawancara.
Pedoman wawancara adalah salah satu instrumen pengumpulan data yang berisi sejumlah pertannyaan yang akan diajukan kepada ketua PPH dan staf yang bisa memberikan keterangan kepada peneliti untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan penelitian.pedoman wawancara berisi sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan strategi meningkatkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang meliputi: latar belakang meningkatkan kulaitas kepemimpinan kepala sekolah, tujuan dan mamfaat meningkatkan kualitas kepala sekolah, waktu pelaksanaan strategi, dan strategi-strategi yang digunakan dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah.
c. Cheklist dokumentasi.
Dalam penelitian yang mengunakan tehnik pengumpulan data berupa dokumentasi, maka untuk mendapatkan informasi dan data yang berkaitan dengan dokumen, peneliti menggunakan cheklist dokumentasi yang berisikan sejumlah variable yang dibutuhkan peneliti.
8. Jadwal Penelitian
Dalam pelaksanaan pengumpulan data, penelitian ini akan dikerjakan selama 3 minggu, terhitung mulai tanggal 1 juni sempai dengan 15 juni 2010 di Yayasan Pondok Pesantren Hidatullah (PPH) Surabaya. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi. Adapun wawancara, akan dilaksanakan berdasarkan kesempatan nara sumber dan peneliti dalam kurun waktu dari tanggal 1 juni sampai dengan tanggal 13 juni 2010. Adapun dokmentasi akan peneliti laksanakan pada tanggal 14-15 juni 2010.
9. Tehnik Analisa Data
Untuk menarik kesimpulan dari data-data yang telah dihasilkan melalui penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisa data kualitatif dengan pendekatan induktif. Hal ini berarti bahwa peneliti berangkat dari fakta/ informasi/ data empiris dalam mengembangkan teori. Selanjutnya peneliti mengorganisasikan data, kemudiam memilah-milahnya sehingga menjadi satuan yang dapat merumuskan apa yang dapat dijabarkan pada orang lain.
Category: 0 komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar