MACAM-MACAM ASAS KURIKUKUM

1. asas filosofis
sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik” . Apakah yang dimaksud dangan yang “baik “ pada hakekatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut megara, tapi guru, juga orang tua, masyarakat bahkan dunia. Perbedaan filsafat dengan sendirinya akan menimbulkan perbedaan dalam tujuan pendidikan, jadi juga bahan pelajaran uang disajikan, mungkin juga cara mengajar dan menilainya. pendidikan dinegara otokritas akan berbeda dengan negara yang demokratis, pendidikan dinegara yang menganut agama budha akan berlainan dengan pendidikan degara yang memeluk agama islam atau kresten. Kurikulum tadi dapat mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat bangsa dan negara terutama dalam menentaukan manusia yang dicita-citakan sebagai tujuan yang harus dicapai melalui pendidikan formal.
2. Asas fisikologis
a. fisikologi anak
sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak, yakni menciptakan situasi–situasi dimana anak dapat belajar untuk mengembangkan bakatnya. selama berabat-rabat anak tidak dapat dipandang sebagai manusia yang lain dari pada orang dewasa dan karena atau mempunyai kebutuhan sendiri sesuai dengan perkembangannya. baru setelah rousseau anak itu dikenal sebagai anak , dan dilakukan penelitian ilmiyah untuk lebih mengenalnya, dan sejak permulaan ke-20 anak kian mendapat perhatian menjadi salahsatu asas dalam pengembangan kirikulum. timbullah aliran yang disebut progresif, bahkan kurikulum yang semata–mata didasarkan atas minat dan perkembangan anak, yaitu “child centered curriculum”. kurikulum ini dapat dipandang sebagai reaksi sebagai kurikulum yang ditentukan oleh orang dewasa tanpa menghiraukan kebutuhan dan minat anak. tentu saja kurikulum yang begitu ekstrim mengutamakan salahsatu dasar akan mempunyai kekurangan-kekurangan. namun gerakan ini tak dapat menarik perhatian terhadap para didik, khususnya para pengembang kurikulum, untuk selalu menjadikan anak sebagai salah satu pokok pemikiran.
b. fisikologi belajar
pendidik disekolah diberikan dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa anak–anak dapat dididik, dapat dipengaruhi kelakuannya ,. Anak–anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat mengubah sikapnya, dapat menerima norma-norma, dapat menguasai sejumlah keterampilan. Soal yang penting ialah : bagaimanakah anak itu belajar ? kalau kita tahu betul, bagaimana proses belajar berlangsung, dalam keadaan bagaimana belajaar itu memberi hasil yang sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara yang seefektif-fektifnya.
oleh sebab itu belajar ternyata suatu proses yang pelik dan kompleks, maka timbullah berbagai teori belajar yang menunjukkan ketidak sesuaian satu sama lain. Penelitian dilakukan untuk lebih mendalam memahami proses belajar ini, banyak diantaranya melakukan eksperimen.
Pada umumnya dapat dikatakan, bahwa tiap teori itu mengandung kebenaran, akan tetapi tidak memberikan gambaran tentang keseluruhan proses belajar itu, jadi yang mencakup segala gejala belajar, dari yang sederhana samapai yang paling baik.
Teori belajar dapat dijadikan dasar bagi proses belajar mengajar. Dengan demikian ada hubungan yang erat antara kurikulum dan fisikologi belajar anak.karena hubungan yang sangat erat itu maka fisikologi menjadi salah satu dasar kurikulum.
3. asas sosiologi
anak tidak hidup sendiri terisolasi dari manusia lainnya, ia selalu hidup dalam suatu masyarakat. Disitu ia memenuhi tugas-tugas yang harus dilakukannya dengan penuh tanggung jawab, baik sebagai anak, maupun sebagai orang dewasa kelak. ia banyak menerima jasa dari masyarakat dan ia sebaliknya harus menyumbangkan baktinya bagi kemajuan masyarakat tuntutan masyarakat tidak dapat diabaikannya.
Tiap masyarakat mempunyai norma-norma, adat kebiasaan yang tidak harus dikenal dan diwujudkan anak dalam peribadinya lalu dinyatakan dalam kelakuannya. Tiap masyarakat berlainan corak nilai–nilai yang dianutnya. Tiap anak akan berbeda latar belakang kebudayaannya. Pebedaan ini harus dipertimbangkan dalam kurikulum. Juga perubahan masyarakat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan tegnologi merupakan paktor pertimbangan dalam kurikulun.
oleh sebab itu masyarakat merupakan suatu faktor yang begitu penting dalam mengembangkan kurikulum, maka masyarakata dijadikan suatu asas. Dalam hal ini pun harus kita jaga, agar asas ini jangan terlampau mendominasi sehingga timbul kurikulum yang berpusat pada masyarakat atau “ society – centered curricukum” .
4. asas organisatoris
asas ini berkenaan dengan masalah, dalam bentuk yang bagaimana dalam bahan pelajaran akan disajikan? Apakah dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah, ataukah diusahakan adanya hubungan antara pelajaran yang diberikan, misalnya dalam bemtuk broad – field atau bidang studi seperti IPA, IPS, bahasa dan lain- lain. ataukah diusahakan hibungan secara lebih mendalam dengan menghapuskan segala batas-batas mata pelajaran, jadi dalam bentuk kurikulum yang terpadu. Ilmu jiwa asosiasi yang berpendirian bahwa keseluruhan sama dengan jumlah bagian-bagiannya cendrung memilih kurikulum yang subject centered, atau yang barpusat pada mata pelajaran, yang dengan sendirinya akan terpisah-pisah sebaliknya ilmu jiwa gestalt lebih mengutamakan keseluruhan itu bermakana dan lebih relevan dengan kebutuhan anak dan masyarakat. Aliran fisikologi ini lebih cendrung memilih kurikukum terpadu atau integrated kurikulum.
Kembali, perlu diingatkan, bahwa tidak ada kurikulum yang baik dan tidak baik. Setiap organisasi yang baik mempunyai kebaikan akan tetapi tidak lepas dari kekurangan ditinjau dari segi-segi tertentu. Selain itu, bermacam-macam organisasi kurikulum dapat dijalankan bersama disatu sekolah, bahkan yang satu dapat membantu atau melengkapi uang satu lagi.
Kurikulum yanga mana yang harus dipilih ? pertanyaan itu diajukan karena macamnya kemungkinan. dalam mengembangkan kurikulum harus diadakan pilihan, jadi selalu hasil semacam komromi antar anggota panitia kurikulum. Sering dikatakan bahwa “ cirriculum matter choice”, kurikulum adalah soal pilihan. Dalam hal ini pilihan banyak tergantung pada pendirian atau sikap seseorang tentang pendidik. Pada umumnya dapat dibedakan dua pendirian utama, yakni yang tradisional dan yang progresif.
Category: 0 komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar